Sastra Jaya: Kesampingkan Perbedaan, Junjung Sikap Teloransi

MUARA TEWEH, inikalteng.com – Memperingati Hari Pahlawan pada 2021, memberi makna tersendiri bagi Wakil Ketua II DPRD Barito Utara (Barut) Sastra Jaya. Hari Pahlawan hendaknya dijadikan momentum untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan, dengan menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengesampingkan perbedaan.

“Kesampingkan perbedaan dan junjung tinggi sikap toleransi, ini kunci dalam memaknai Hari Pahlawan kali ini,” tutur Sastra Jaya di sela peringatan Hari Pahlawan, di halaman Kantor Bupati Barut, Rabu (10/11/2021).

Disebutkan, Hari Pahlawan mengingatkan kembali bagaimana perjuangan para Pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Sebabnya, kini saatnya untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

“Peringatan 10 Nopember berdasarkan pada peristiwa penting, yakni pertempuran besar di Surabaya antara pasukan Republik Indonesia lawan tentara asing yang memakan korban cukup besar pula. Peristiwa ini memberi pelajaran moral, bahwa warisan terbaik para Pahlawan Bangsa bukanlah politik ketakutan, tapi politik harapan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, seberat apapun tantangan yang dihadapi dan keterbatasan yang ada, harusnya tidak menyurutkan semangat perjuangan. Karena perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, juga menunjukan bahwa betapa spirit perjuangan dan mental, serta karakter Kepahlawanan memiliki daya hidup yang luar biasa dalam menghadapi berbagai rintangan dan penderitaan.

“Peringatan Hari Pahlawan harus mampu menggali apinya, bukan abunya. Karena semangat Kepahlawanan adalah semangat  persatuan yang bulat mutlak, dengan tiada pengecualian sesuatu golongan atau lapisan. Semangat Kepahlawanan adalah semangat membentuk dan membangun negara,” tegasnya.

Mengutip pernyataan Presiden Bung Karno, sambung Sastra Jaya, ada tiga fase revolusi bangsa, dan dua fase di antaranya telah dilalui dengan berhasil, dan satu fase lagi menghadang. Sebagai tantangan, Indonesia telah melewati taraf physical revolution dan taraf survival.

Dia mengatakan, saat ini Indonesia berada pada taraf investment, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya, investment of human skill, material investment, dan mental investment.

Investment keterampilan dan material amat penting, akan tetapi yang lebih penting adalah mental investmet. Karena investasi keterampilan dan material tidak bisa menjadi dasar persatuan dan kemakmuran bersama tanpa didasari investment mental, tanpa kekayaan mental,” tutupnya. (mhd/red2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *