MUARA TEWEH, inikalteng.com –
Kebijakan penggunaan bahasa daerah di sekolah kembali menjadi sorotan setelah DPRD Barito Utara menilai dunia pendidikan membutuhkan ekosistem yang lebih kuat untuk memastikan bahasa ibu tetap bertahan di tengah derasnya dominasi bahasa nasional dan global.
Anggota Komisi I DPRD Barito Utara, Patih Herman AB, menyatakan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya bergantung pada satu regulasi, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, dan komunitas budaya.
“Kebijakan ini akan relevan kalau seluruh unsur pendidikan dilibatkan serius. Bukan hanya soal berbicara bahasa daerah pada hari tertentu, tapi bagaimana sekolah punya ruang kreatif untuk menghidupkan kembali bahasa ibu,” ujarnya di Muara Teweh, Senin (20/10/2025).
Instruksi Bupati Nomor 400.3.5/897.a/DISDIK/X/2025 yang mewajibkan penggunaan bahasa daerah setiap Kamis di pekan pertama tiap bulan dinilai sebagai langkah awal yang perlu diperkuat dengan payung anggaran dan kebijakan turunan.
Patih Herman menegaskan bahwa DPRD siap mendorong penyediaan alokasi khusus dalam perencanaan pendidikan daerah agar program pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada tingkat imbauan.
“Kita ingin program ini memiliki pijakan yang kokoh. Harus ada dukungan anggaran, penguatan kurikulum muatan lokal, serta peningkatan kapasitas guru supaya pelaksanaan di lapangan benar-benar menyentuh peserta didik,” katanya.
Ia menilai masuknya bahasa Temboyan dalam program revitalisasi pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Barito Utara Tahun 2025 merupakan momentum penting yang menunjukkan kesadaran baru dalam menjaga bahasa daerah.
Menurutnya, revitalisasi bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kerja kolektif yang harus berjalan konsisten.
“Kita harus melihat bahasa ibu sebagai bagian dari keberlanjutan budaya. Kalau tidak dipraktikkan secara rutin dan tidak ada media belajar yang memadai, maka upaya kita akan terhambat,” jelasnya.
FTBI Barito Utara Tahun 2025 yang melibatkan ratusan pelajar dari 47 sekolah dinilai menjadi wadah penting untuk menghidupkan kembali tradisi bertutur dan apresiasi budaya lokal. Agenda ini sekaligus menjadi indikator bahwa minat generasi muda terhadap bahasa daerah masih dapat terus dikembangkan.
“Festival ini membuktikan bahwa generasi muda punya antusiasme. Tugas kita memastikan antusiasme itu tumbuh dan tidak padam,” pungkas Patih Herman.
Penulis : Nopri
Editor : Yohanes Frans Dodie










