oleh

Generasi Muda Diajak Lestarikan Kearifan Lokal

PALANGKA RAYA, inikalteng.com – Ketua Umum (Ketum) Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng H Agustiar Sabran, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang ada di Kalteng. Pasalnya di era globalisasi dan perkembangan zaman yang begitu pesat, kearifan lokal harus terawat dengan baik dari generasi ke generasi.

“Saya mengapresiasi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID, red) Kalimantan Tengah, yang telah menginisiasi kegiatan Literasi Media dan Akademisi P3SPS ini, sekaligus menunjukkan peran penting KPID Kalteng dalam keikutsertaannya melestarikan kearifan lokal dan kebudayaan di Kalteng,” tutur H Agustiar Sabran melalui Sekretaris Umum (Sekum) DAD Kalteng Yulindra Dedy, saat didaulat menjadi pembicara pada kegiatan Literasi Media dan Akademisi P3SPS 2022, yang dilaksanakan KPID Kalteng, di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (1/12/2022).

Tidak itu saja, dia juga sangat mengapresiasi kehadiran para siswa dan mahasiswa, yang merupakan calon penerus di masa yang akan datang. Dia meyakini semua menjadi pengawal kearifan lokal dan pelestari kebudayaan di Kalteng.

Baca Juga :  Presiden Minta BRIN Orkestrasi Proyek Riset Strategis

Yulindra, menambahkan, setiap negara di dunia memiliki keunikannya tersendiri, termasuk juga Indonesia. Keunikan Indonesia sendiri berasal dari adat istiadat, tradisi, dan kearifan lokal yang ada. Bukan hanya satu, setiap daerah bahkan memiliki kearifan lokalnya masing-masing, termasuk Kalteng.

“Sayangnya seiring berjalannya waktu, sama seperti kebanyakan adat, tradisi, dan budaya, kearifan lokal yang ada di berbagai daerah semakin banyak yang tergerus zaman,” ucapnya.

Menurutnya, alih-alih mempertahankan kearifan lokal yang sudah turun-temurun dari nenek moyang, banyak anak muda yang menggantinya dengan pandangan-pandangan dari luar. Padahal hal itu justru belum tentu ada benarnya, atau bahkan hanya akan merusak kearifan lokal yang sudah ada.

“Membahas soal kearifan lokal, mungkin kita semua sudah sering mendengar istilah yang satu ini, entah itu di buku, televisi, atau media elektronik lainnya. Namun meski sering mendengar istilah satu ini, pada akhirnya, banyak dari kita yang gagal memahami, bahkan bingung sendiri dengan makna kearifan lokal itu sendiri. Makna kearifan lokal atau pengertian dari kearifan lokal, pada dasarnya suatu hal yang sudah ada di suatu wilayah sejak lama, dan dilanjutkan dari generasi ke generasi,” terangnya.

Baca Juga :  Sepi Pembeli di Tengah Penyekatan, Sekda Kapuas Borong Dagangan Warga

Kearifan lokal, sambung Yulindra Dedy, adalah pandangan hidup suatu masyarakat di wilayah tertentu mengenai lingkungan alam tempatnya tinggal. Pandangan hidup tersebut biasanya adalah pandangan hidup yang sudah berurat akar menjadi kepercayaan orang-orang di wilayah tersebut selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

“Untuk mempertahankan kearifan lokal tersebut, para orang tua dari generasi sebelumnya, dan lebih tua akan mewariskannya kepada anak-anak mereka dan begitu seterusnya. Mengingat kearifan lokal adalah pemikiran yang sudah lama dan berusia puluhan tahun, maka kearifan lokal yang ada pada suatu daerah jadi begitu melekat dan sulit untuk dipisahkan dari masyarakat yang hidup di wilayah tersebut,” sebutnya.

Melalui kearifan lokal, lanjutnya, maka tatanan sosial dan alam sekitar tetap lestari dan terjaga. Selain itu, kearifan lokal juga merupakan bentuk kekayaan budaya yang harus digenggam teguh, terutama oleh generasi muda untuk melawan arus globalisasi.

Baca Juga :  Pembangunan Harus Perhatikan Tata Kota

“Dengan begitu, karakteristik dari masyarakat daerah setempat tidak akan pernah luntur. Apalagi kearifan lokal berasal dari nenek moyang kita, yang jelas lebih mengerti segala sesuatunya, terutama yang berkaitan dengan wilayah tersebut,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ada kebijaksanaan dan juga hal baik dalam kearifan lokal, tetapi terkadang sulit dimengerti anak muda dari generasi sekarang. Sebaliknya pandangan yang terlalu modern memiliki potensi yang lebih merusak, terutama merusak kearifan lokal yang sudah ada. Bahkan tak menutup kemungkinan akan merusak kebudayaan yang sudah ada, juga merusak alam sekitar.

“Untuk itu, DAD Kalteng mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda untuk menjaga kearifan lokal dan budaya yang ada. Karena banyak nilai poaitif yang terkandung di dalamnya, dan menjadi karakter suatu daerah,” pungkas Yulindra Dedy. (ka/red2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA