Teras Bicara Tantangan dan Peluang Gereja Dalam Proyeksi Pembangunan IKN

BALIKPAPAN, inikalteng.com – Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Sinode Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Agustin Teras Narang diundang sebagai narasumber oleh Majelis Pekerja Harian Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH PGI), dalam acara Sidang Majelis Pekerja Lengkap PGI 2023, Jumat (27/1/2023), di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sidang yang merupakan pertemuan tahunan para Pimpinan Gereja dari seluruh Indonesia ini mengambil tema: “Aku adalah yang awal dan yang akhir” (Bdk Wahyu 22:12-13), dengan Sub tema: “Bersama Seluruh Warga Bangsa, Gereja Memperkokoh NKRI yang Demokratis, Adil dan Sejahtera Bagi Semua Ciptaan Berlandaskan Pancasila dan UUD 1945”.

Dalam acara tersebut, Teras menyampaikan presentasi bagaimana tantangan dan peluang Gereja-Gereja dalam proyeksi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Teras yang juga sebagai Anggota DPD RI pemilihan Kalteng ini menerangkan, pemindahan Ibu Kota Negara ke Pulau Kalimantan adalah merupakan bagian dari harapan presiden pertama Bung Karno, yang merencanakan saat itu membangun IKN di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pemindahan IKN adalah juga merupakan konsekuensi dari adanya perkembangan demografi dan geologis, serta penyebaran pembangunan yang harus kita hadapi dan antisipasi secara obyektif dan konstruktif.

Lebih jauh diungkapkan Teras, tantangan kekinian yang dihadapi bangsa dan negara sekarang ini, baik secara internal maupun eksternal. Di antaranya, revolusi industri 4.0, Society 5.0, terjadinya disrupsi dan shifting di segala bidang, bonus demografi, perkembangan informasi teknologi dan digitalisasi yang sangat pesat, pandemi covid-19, perang Rusia dan Ukraina, menghadapi pemilu dan pilkada di tahun 2024, serta persiapan, pembangunan, dan pemindahan IKN. Kemudian yang tidak kalah penting, yaitu bonus demografi 2030, dan Indonesia Emas pada tahun 2045.

” Persiapan, pembangunan, dan pemindahan IKN tidaklah mudah, meski secara perundang-undangan sudah ada Undang Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara. Pembiayaannya yang melibatkan investor lokal maupun luar negeri juga diharapkan, karena pembiayaan pembangunannya yang sangat besar tidak hanya dibebankan kepada APBN,” jelas Teras.

Kemudian lanjutnya, konsep hijau, kota pintar dan futuristik untuk IKN, diharapkan dapat terwujud, sehingga berdampak secara ekologis bagi masa depan hutan di Kalimantan sebagai paru-paru dunia. Lalu bagaimana kemudian penataan sosial dan pemerataan ekonomi yang hadir di IKN.

” Sehingga jangan sampai pemindahan IKN hanya pemindahan kepentingan oligarki yang justru tidak menghadirkan solusi bagi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” sebut Teras.

Selain tantangan sambung dia, ada peluang bagi Gereja untuk membangun peradaban maju Indonesia sentris di segala bidang. Keberadaan Gereja di tengah masyarakat Kalimantan khususnya, Indonesia umumnya, mesti di revitalisasi dan hendaknya menjadi modal sosial demografi yang di kelola PGI. Perkembangan media dan teknologi komunikasi, juga bisa menjadi sarana yang baik dan efektif, guna meningkatkan efisiensi pelayanan.

” Dari sisi internal, PGI lewat sumber daya dan jejaring yang dimiliki mendukung agenda penguatan sektor kesehatan dan pendidikan di Kalimantan. Juga mendorong investasi yang bersahabat dan paham akan konservasi dalam kepentingan menjaga ekologi dan ruang hidup masyarakat adat,” ujar Teras.

Kemudian dari sisi eksternal, bersama-sama dengan komunitas sosial keagamaan lain, PGI perlu menguatkan peran-peran kebangsaan lewat jalur kebudayaan di Kalimantan. Diharapkan Teras, PGI menanamkan semangat persatuan dan membangun tradisi silaturahmi serta konsolidasi kebangsaan di Pulau Kalimantan. Hanya tanah yang damai yang memiliki kesempatan maju berkembang bagi kemanusiaan.

Disamping itu, Teras menilai pembangunan IKN juga akan menghadirkan “gula” pembangunan yang akan mengundang migrasi dari berbagai daerah dan manca negara ke Kalimantan Timur. Hal ini berpotensi menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial, bila tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.

Gubernur Kalteng periode 2005-2015 ini menekankan, bidang strategis yang dianggap penting bagi Gereja di Kalimantan Timur khususnya, dan Kalimantan serta NKRI pada umumnya, adalah bidang kesehatan dan pendidikan, karena berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia.

” Sementara masyarakat adat dan ekologi berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya alam dan daya tahan lingkungan. Sumber daya manusia yang berkualitas mesti sepadan dengan sumber daya alam yang berkulitas juga,” tegasnya.

Untuk itu, Teras berpandangan Gereja perlu hadir dalam mimbar pewartaan dalam kondisi kekinian. Menghadirkan pelayanan terbaik bagi warganya dalam bidang kesehatan dan pendidikan yang berkualitas. Sebagaimana yang sekarang ini dilakukan Majelis Sinode GKE melalui Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan yang berkualitas.

” Hal ini menghadirkan harmoni kehidupan di Kalimantan dan NKRI yang maju secara ekonomi dan sejahtera. Tapi juga tak abai pada kelestarian ekologi, demi kejayaan dan kemakmuran NKRI yang kita cintai serta banggakan bersama,” pungkas Teras. (adn/red4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *