Dr. Ari Yunus Hendrawan : Pumpung Hai harus menghasilkan manfaat buat orang Dayak dan Perdamaian Tumbang Anoi

PALANGKA RAYA,inikalteng.com- Kegiatan seminar International Day of the World’s Indigenous Peoples 2025 Pumpung Hai Borneo (The Great Borneo’s Assembly) Pada Tanggal 21-23 Agustus 2025 mendapat tanggapan dari Tokoh muda Dayak dan Praktisi Hukum Adat, Dr. Ari Yunus Hendrawan.

Dr. Ari mengatakan, Pumpung Hai harus menghasilkan manfaat buat orang Dayak dan Perdamaian Tumbang Anoi bisa menjadi rekomendasi Perdamaian Dunia. Masyarakat Dayak dari seluruh Kalimantan bersama delegasi dari Sarawak (Malaysia), Brunei Darussalam, dan berbagai wilayah Borneo berkumpul dalam Pumpung Hai Borneo (The Great Borneo’s Assembly) bertepatan dengan International Day of the World’s Indigenous Peoples 2025.

“Pertemuan ini menjadi tonggak penting, di mana Dayak menegaskan dirinya sebagai bagian dari peradaban dunia yang membawa pesan perdamaian, keberlanjutan, dan persaudaraan, ” Katanya.

Falsafah Huma Betang kembali ditegaskan sebagai pedoman hidup Dayak: kejujuran, kesetaraan, dan taat terhadap hukum, yang dibingkai dalam belum bahadat,hidup dengan tata krama dan saling menghormati. Nilai-nilai ini diangkat sebagai modal sosial Dayak untuk hidup bermartabat, mandiri, dan menjadi berkah, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia.

“Pertemuan ini juga mengingatkan kembali sejarah besar Rapat Tumbang Anoi 1894, ketika para pemimpin Dayak berkumpul untuk mengakhiri konflik antarsuku dan melahirkan 96 pasal hukum adat sebagai piagam perdamaian,” Ujarnya.

Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa masyarakat Dayak telah lebih dahulu menemukan cara damai dalam menyelesaikan sengketa melalui musyawarah dan hukum adat.

“Oleh karena itu, masyarakat Dayak mengharapkan agar hasil pertemuan internasional ini dapat menetapkan Tumbang Anoi sebagai objek wisata dunia, sekaligus mengangkat 96 pasal hukum adat Tumbang Anoi sebagai rekomendasi model perdamaian dunia,” Tuturnya.

Nilai yang terkandung di dalamnya relevan untuk menjawab tantangan global, mulai dari konflik sosial hingga krisis lingkungan.

“Jika leluhur Dayak pada 1894 mampu bersatu untuk hidup damai dalam semangat Huma Betang, maka dunia modern pun bisa belajar dari kearifan tersebut. Kami, masyarakat Dayak, siap menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 sekaligus menghadirkan berkat bagi seluruh umat manusia,” pungkasnya.

Penulis : Ardi

Editor : Ika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *