NANGA BULIK, inikalteng.com – Sebelum menggelar Festival Babukung, Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Bulik menggelar ritual pamitan kepada leluhur. Sebab sejatinya, Babukung adalah ritual adat kematian bagi masyarakat Hindu Kaharingan, sehingga pelaksanaannya tidak boleh sembarangan. Babukung hanya boleh dilakukan jika ada warga yang meninggal, dengan tujuan mengantarkan bantuan dan memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Plt Kadis Pariwisata Lamandau Susana Sriharti Sahada, di Halaman Pasar Induk Nanga Bulik, Sabtu (5/8/2023), menuturkan, dalam Babukung terpendam makna gotong-royong masyarakat yang sesungguhnya. Di mana saat ada warga yang meninggal, warga lain akan datang menggunakan Topeng Bukung dan mengantarkan bantuan kepada yang berdukacita. Musiknyapun khas, yakni disebut dengan Musik Batipa.
Dahulu, lanjutnya, Babukung tidak boleh dilaksanakan jika tidak ada orang yang meninggal, karena dianggap melanggar adat atau Pamali, sebab bukan merupakan adat orang hidup. Namun karena keinginan untuk tetap melestarikan adat dan budaya, maka sejak 2014 dimulailah Festival Babukung, dalam rangka mengenalkan budaya tradisional Lamandau ke dunia luar.
“Supaya tidak ada musibah dalam pelaksanaannya, hari ini kita melaksanakan ritual adat Padah Pamit, untuk meminta izin kepada leluhur agar selama pelaksanaan Festival Babukung, seluruh peserta diberi keselamatan dan kelancaran,” pungkas Susana Sriharti Sahada.
Sementara, Ketua DAD Kecamatan Bulik Biris, menjelaskan, dalam pelaksanaan Festival Budaya Babukung perlu kesepakatan bersama dari para Tetua dan Tokoh Adat. Sebab dalam festival tidak ada mayat atau kematian, tapi ada ribuan orang menggunakan Topeng Bukung dan menari bersama demi pelestarian adat budaya.
“Sehingga sangat penting kita lakukan ritual hari ini, agar para leluhur memberikan izin dan merestui niat baik kita yang melakukan ritual adat Babukung, dalam rangka demi menggali budaya dan melestarikan adat istiadat, meskipun tidak ada mayat. Maka kita lakukan pemasangan ancak , memotong ayam dan memberikan sesajian, kita berdoa bersama agar dalam pelaksanaan nanti bisa berjalan lancar, semoga tidak ada musibah,” ungkapnya.
“Semoga Festival Babukung ini bisa terus dilaksanakan dari tahun ke tahun, dan para generasi muda tidak melupakan adat dan tradisi yang telah ditinggalkan oleh para leluhur kita ini,” tutur Damang Kecamatan Bulik Darong.
Untuk diketahui, pelaksanaan ritual Padah Pamit kepada leluhur, dilakukan Damang dan Mantir se-Kecamatan Bulik, serta para Tokoh Adat. Diawali dengan pembacaan doa yang dirapal masing-masing Mantir Adat, kemudian penaburan beras kuning, penyembelihan ayam berwarna hitam dan pemasangan ancak atau Peganjingan (wadah dari bambu berisi sesajen) di pinggir lapangan. (ta/red2)










