Palangka Raya,inikalteng.com – Berkat kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, Januari 2023 Pemprov Kalteng berhasil menurunkan angka inflasi menjadi 5,81 persen (YoY). Hal itu disampaikan Kepala Biro Ekonomi Setda Kalteng, Said Salim, Rabu (8/2/2023).
“Kita bersyukur inflasi Januari 2023 ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi kita selama tahun 2022 yakni 6,45 persen. Kita menjadi salah satu dari delapan provinsi di Indonesia yang angka pertumbuhan ekonominya lebih tinggi dari angka inflasinya,” Kata Salim usai Rakor Pengendalian Inflasi Tahun 2023 bersama Menteri Dalam Negeri RI, Tito Karnavian secara virtual dari Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalteng.
Sementara, Tito menuturkan inflasi nasional di bulan Januari 2023 berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Februari 2023 yakni sebesar 5,28 persen, turun dibandingkan inflasi di bulan Desember 2022 yaitu 5,51 persen. “Ini berkat kerja keras kita semua, baik di Pusat maupun di Daerah,” kata Tito.
Kepala BPS RI, Margo Yuwono menyampaikan penyumbang inflasi nasional (YoY) yaitu bensin (1,07 persen), bahan bakar rumah tangga (0,24 persen), beras (0,24 persen), tarif angkutan udara (0,19 persen), dan rokok kretek filter (0,17 persen). “Inflasi yang rendah, stabil, dan dapat diprediksi adalah inflasi yang terbaik untuk perekonomian,” ucap Margo.
Lebih lanjut Margo mengungkapkan delapan provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi di atas tingkat inflasi pada tahun 2022 adalah Kalteng, Kaltara, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua.
Turut hadir Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Prov. Kalteng Aster Bonawaty, Deputi Kepala Perwakilan Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Intern Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalteng Magfur, serta perwakilan unsur Forkopimda. Hadir secara virtual Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional Andriko Noto Susanto dan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Maria Kristi Endah Murni. (ard/red2)










