Saat Pengabdian Menjadi Jembatan Harapan”

Oleh : Letkol Inf Langgeng Pujut Santoso, S.E., M.Han (Dansatgas Kodim 1012/Buntok)

Desa Talio, Kecamatan Karau Kuala, menyuguhkan lanskap yang tak sekadar indah ia menyentuh nurani. Kabut tipis menggantung di atas hamparan rawa seperti selendang putih alam, menari pelan bersama angin yang lembut.

Pepohonan galam berdiri takzim, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Sementara itu, nyanyian burung di kejauhan menciptakan simfoni alam yang seolah membisikkan pesan: “Beginilah ketenangan yang hakiki.”

Sungai Barito yang membelah bumi Kalimantan mengalir tenang, menjadi denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di atas permukaannya yang beriak lembut, perahu kelotok berlalu dengan pelan, mengangkut hasil bumi, harapan, dan cita-cita masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Di balik pesonanya yang menenangkan, kehidupan masyarakat masih tertahan dalam pelukan keterisolasian. Fasilitas dasar terbatas, akses jalan minim, dan infrastruktur nyaris tak menyentuh banyak desa.

Namun semuanya berubah ketika TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 hadir. Datang bukan hanya membawa alat berat, semen, dan besi. Ia hadir membawa semangat, pengabdian, dan harapan baru yang tak terkatakan.

 

Bupati Barito Selatan, H. Eddy Raya Samsuri saa upacara pembukaan TMMD Ke 124 Kodim 1012/Buntok

Saat Pengabdian Menembus Batas

Ketika program TMMD ke-124 dimulai, awan kelabu di langit Danau Ganting tak hanya membawa hujan, tapi juga menggambarkan beratnya tantangan yang dihadapi warga selama ini. Satgas dari Kodim 1012/Buntok hadir tak sekadar menjalankan misi pembangunan, tapi membawa nyala semangat baru di tengah sunyi yang lama menyelimuti desa.

Bupati Barito Selatan, H. Eddy Raya Samsuri, yang turut hadir dalam upacara pembukaan TMMD ke-124, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya soal membangun infrastruktur, tapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat yang selama ini terisolasi.

“Kami mengapresiasi langkah TNI bersama masyarakat dalam mewujudkan pemerataan pembangunan. TMMD ini menjadi jembatan penghubung antara harapan dan kenyataan di wilayah kami,” ujarnya dengan penuh semangat.

Menembus Batas, Menyentuh Hati

Kondisi jalan sebelum di lakukan pembangunan

Langit mulai berwarna kelabu saat kendaraan kami memasuki jalan berlumpur menuju Desa Danau Ganting, titik utama pelaksanaan TMMD ke-124. Tidak ada jalan beraspal yang menyambut. Yang ada hanyalah tanah basah, licin, dan belukar yang menjulang. Di medan seperti ini, bukan mesin canggih yang utama, tapi tekad dan ketulusan.

Aku, Komandan Satgas TMMD ke-124 dari Kodim 1012/Buntok, tidak akan pernah lupa hari itu. Bukan karena lumpur yang melumpuhkan kendaraan kami, atau jalanan setapak yang nyaris menghilang ditelan rawa. Tapi karena di balik semua itu, aku melihat seberkas cahaya wajah-wajah warga yang menanti, penuh harap, di bawah rintik hujan yang turun perlahan.

Mereka tak menyambut kami dengan karpet merah, tapi dengan senyum tulus dan tatapan penuh percaya. Mereka tak menunggu bantuan mereka menunggu harapan.

Pembangunan yang Tak Hanya Membuka Jalan, Tapi Juga Jiwa

Ketika TMMD ke-124 dimulai, warga menyambut bukan hanya dengan senyum, tapi dengan haru yang mengendap. Selama ini mereka menunggu, berharap, tapi tak tahu kepada siapa bersandar. Kini, harapan itu menjelma dalam wujud nyata jalan penghubung sepanjang 1.800 meter dari Danau Ganting ke Desa Kaliuk mulai dibuka.

Medan yang berat dalam pembangunan jalan

Tugas ini bukan tugas biasa. Ini adalah peperangan harian melawan rawa, tanah gambut, dan lumpur dalam. Tak jarang prajurit kami harus tenggelam hingga paha, mengangkat material sambil tetap menjaga semangat rekan di sekitarnya.

Pengangkutan matrial menggunakan perahu

Transportasi material menjadi tantangan tersendiri. Pasir, semen, dan besi tidak bisa diangkut menggunakan truk besar. Hanya kelotok perahu kecil khas Kalimantan yang mampu menyusuri sungai sempit dan dangkal. Dalam sekali perjalanan, berjam-jam waktu terpakai. Tapi tak satu pun prajurit mengeluh. Setiap butir pasir yang sampai ke lokasi pembangunan adalah simbol dari ketekunan, kerja keras, dan pengorbanan.

Pemasangan geotekstil

Setelah jalan dibuka, proses berlapis dilakukan penimbunan, pemasangan cerucuk kayu, pemasangan geotekstil kelas dua, dan pengecoran jalan selebar 60 cm dengan ketebalan 15 cm. Secara total, badan jalan yang berhasil dibentuk dan dipadatkan mencapai 7.000 meter. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah bukti bahwa mimpi bisa dibangun dari ketulusan.

Tim Wases meninjau lokasi sasaran kegiatan TMMD

Kehadiran yang Menguatkan

Di tengah perjuangan ini, semangat kami semakin menyala ketika Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) dari Mabesad datang mengunjungi. Dipimpin oleh Paban V/Bakti TNI Sterad, Kolonel Inf M. Herry Subagyo, S.I.P, tim ini menyapa warga, dan mendengar langsung jerih payah prajurit di lapangan.

Kolonel Herry tak datang hanya untuk menilai. Ia datang membawa semangat dan pengakuan. Dalam setiap arahannya, ada dorongan moral yang tak ternilai.

“Kalian bukan hanya membangun jalan. Kalian membangun masa depan,” ujar beliau.

Bagi kami, kalimat itu adalah energi. Sebuah pengakuan bahwa apa yang kami lakukan berarti dan berdampak.

Pembangunan jembatan, gotong royong Bersama warga

Gotong Royong, Jantung dari TMMD

Dalam TMMD, kami tak berjalan sendiri. Warga desa turun tangan dengan semangat menyala. Para bapak membawa cangkul, para ibu menyiapkan makanan, para pemuda memanggul kayu. Ada cinta dalam setiap langkah mereka. Ada rasa memiliki yang tak bisa diajarkan oleh teori pembangunan mana pun.

Empat jembatan darurat yang semula nyaris ambruk kami rehabilitasi. Tiga puluh rumah tak layak huni kami perbaiki. Tiga puluh titik sumur gali dikerjakan demi menjawab kebutuhan air bersih warga. Fasilitas umum seperti pasar desa, tempat ibadah, dan sekolah kami sentuh, kami rawat, kami bangun kembali.

Bahkan, dua hektar lahan pertanian yang selama ini tertidur kami hidupkan kembali. Kami ingin desa ini tidak hanya terbuka jalannya, tapi juga mandiri pangan. Karena ketahanan desa adalah pondasi dari kekuatan negara.

Penyuluhan dalam kegiatan non fisik

Ketahanan Pangan dan Pelestarian Lingkungan di Ujung Desa

ayam petelor menjadi salah satu pendukung program ketahanan pangan

Di bagian barat desa, tanah yang dulu hanya ditumbuhi semak belukar kini berubah menjadi ladang penuh harapan. Dua hektar lahan digarap bersama oleh petani dan prajurit satgas TMMD Kodim 1012/Buntok—bukan hanya ditanami jagung, tetapi juga sayuran seperti sawi yang tumbuh subur di antara barisan tanah yang diolah dengan cangkul dan semangat. Di sampingnya, kolam ikan air tawar mulai digali, dan kandang ayam petelur pun dibangun untuk memperkuat ketahanan pangan dari berbagai sisi. Inilah cara desa menanam kemandirian, bukan lewat wacana, melainkan kerja nyata yang menyatukan langkah petani dan prajurit.

Di sela-sela kesibukan di ladang, warga berkumpul di bawah tenda sederhana untuk mengikuti penyuluhan lingkungan hidup dan kehutanan. Mereka belajar bahwa rawa dan hutan galam di sekitar desa bukan hanya latar, tetapi bagian dari sistem alam yang menjaga air, tanah, dan kehidupan. Pengetahuan ini menyatu dengan upaya mereka memelihara kebun, kolam, dan ternak. Semua saling mendukung—alam yang lestari akan memberi hasil yang lestari pula. Apa yang mereka bangun hari ini bukan hanya untuk perut yang lapar, tetapi juga untuk masa depan anak cucu yang layak diwarisi bumi yang terjaga.

Membangun Jiwa, Menjaga Bangsa

TMMD tak hanya membangun fisik. Kami juga hadir lewat sasaran non-fisik yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Kami memberikan penyuluhan tentang wawasan kebangsaan agar generasi muda tak kehilangan jati diri. Kami berbicara tentang bahaya narkoba, pentingnya kesehatan keluarga berencana, dan menjaga lingkungan hidup.

Kami juga membekali masyarakat dengan ilmu pertanian dan perikanan, membuka cakrawala baru dalam pemanfaatan potensi alam yang mereka miliki. Kami hadir mengingatkan bahaya laten radikalisme dan terorisme, agar desa ini tidak hanya tangguh dari luar, tapi juga kuat dari dalam.

Kami ingin meninggalkan lebih dari sekadar jalan beton. Kami ingin meninggalkan semangat. Menanam nilai-nilai, agar desa ini mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Upacara penutupan yang haru

Upacara penutupan TMMD ke-124 di Desa Danau Ganting berlangsung khidmat dan penuh haru. Setelah 30 hari bahu membahu membangun jalan, jembatan, dan fasilitas desa lainnya, warga dan Satgas TMMD berkumpul dalam satu lapangan sederhana yang kini menjadi saksi perubahan besar. Langit yang cerah seolah menyambut lembaran baru dalam kehidupan masyarakat desa yang selama ini terisolasi.

(Wakasad) Letnan Jenderal TNI Tandyo Budi Revita meresmikan rumah dinas

Hadir dalam upacara tersebut, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, yang secara langsung menutup program TMMD ke-124. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa TMMD bukan hanya proyek fisik, tetapi juga bentuk nyata pengabdian TNI kepada rakyat.

“Apa yang dilakukan di Danau Ganting adalah bukti bahwa sinergi antara rakyat dan TNI mampu menembus keterbatasan dan membangun masa depan,” tegasnya. Usai upacara, Wakasad juga meresmikan rumah dinas bagi para anggota TNI, sebagai bentuk dukungan terhadap kenyamanan dan kesiapan prajurit yang bertugas di wilayah-wilayah terdepan.

Kehadiran Wakasad membawa semangat dan pengakuan moral bagi seluruh pihak yang terlibat. Beliau menyempatkan diri menyapa warga, berdialog dengan para tokoh masyarakat, dan menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong yang ditunjukkan selama pelaksanaan TMMD.

Di hari penutupan itu, tak hanya sebuah program yang usai, tetapi sebuah harapan baru yang lahir bahwa desa terpencil pun patut mendapatkan perhatian, pembangunan, dan masa depan yang lebih layak.

 

Akhir yang Mengawali Harapan Baru

TMMD ke-124 boleh saja telah usai, namun jejaknya tertanam kuat di tanah Danau Ganting bukan hanya berupa jalan yang kini menghubungkan, jembatan yang menguatkan, atau rumah yang kembali layak dihuni, tetapi juga dalam hati setiap warga yang kini percaya bahwa perubahan itu mungkin. Di balik lumpur dan hujan, di antara peluh dan doa, tumbuh sebuah kesadaran: bahwa ketika rakyat dan TNI bersatu, tak ada batas yang tak bisa ditembus.

Di desa yang dulu sunyi itu, kini terdengar tawa anak-anak bermain di jalan baru, terlihat para petani kembali mengolah ladang yang lama tertidur, dan terasa semangat baru yang menyala di dada setiap orang. TMMD bukan sekadar membangun desa ia membangkitkan jiwa.

Karena sejatinya, membangun bangsa dimulai dari menyentuh yang paling dalam: hati manusia. Dan di Danau Ganting, hati itu kini telah terbangun.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *