Perjuangan Srikandi Polri Menghadang Amukan Alam

KASONGAN, inikalteng.com – Terjangan bencana banjir besar di Kabupaten Katingan meninggalkan catatan perjuangan seorang Srikandi Polri. Baru sehari resmi tugas dinas di Bumi Penyang Hinje Simpei pada 24 Agustus 2021, Inspektur Satu Lenina Olin dihadapkan dengan kewajiban yang berat mulai keesokan harinya.

Polwan muda penyandang jabatan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Katingan ini harus berjibaku mengamankan jalur transportasi lintas trans kalimantan yang diterjang banjir luapan air Sungai Katingan.

“Satu hari setelah saya berdinas sudah terjadi banjir yang pertama, kemudian sempat surut. Dua minggu kemudian terjadi banjir yang lebih parah dari sebelumnya,” ungkap Lenina Olin.

Tantangan terbesar yang dihadapi wanita asal Provinsi Riau ini adalah mengatur lalu lintas arus kendaraan pada ruas jalan Tjilik Riwut pada akses penghubung Kota Kasongan – Kereng Pangi. Sebab, titik ruas badan jalan tersebut merupakan salah satu prasarana penghubung jalur darat strategis di Pulau Borneo. Karena selain menghubungkan antar kabupaten, juga sebagai jalur penghubung menuju Provinsi Kalimantan Barat. Meskipun panjang badan jalan hanya sekitar 15 kilometer.

Tentu saja jalur itu sangat banyak dilintasi kendaraan. Baik roda dua maupun roda empat. Dari kendaraan pribadi, hingga armada angkutan penumpang, jasa dan barang.

Disitulah, Lenina Olin harus dengan segala upaya melakukan memimpin pengkoordiniran lalu lintas kendaraan. Melakukan pemetaan titik badan jalan yang tergenang, membantu evakuasi kendaraan dan evakuasi warga hingga menyalurkan bantuan sosial kepada warga terdampak banjir.

Banjir pertama yang mulai terjadi pada 25 Agustus 2021 seolah menjadi ‘pemanasan’ bagi wanita berpostur tinggi nan semampai ini. Karena volume luapan air sungai masih dapat diantisipasi, meskipun cukup berat. Dalam beberapa hari, banjir sudah reda.

Namun apa hendak dikata, alam tidak dapat dapat diterka. Luapan air Sungai Katingan kembali terjadi bahkan semakin mengganas sekitar satu setelah peristiwa pertama. Ketinggian air di badan jalan trans kalimantan sampai mencapai dada orang dewasa.

Pada momentum bencana banjir level II inilah, Lenina Olin berjibaku berjuang menunaikan amanah tugas yang diembannya, meskipun yang dihadang adalah amukan alam yang tidak biasa.

Kerasnya terjangan air banjir sampai menimbulkan bunyi bagaikan suara arus arum jeram. Meski demikian, Srikandi Polri itu tetap terjun ke genangan air banjir. Setelah seragam dinasnya harus basah kuyup selama berhari-hari. Aura dingin tentu sudah pasti dirasakannya menembus pori-pori kulit dan tulang raganya.

Bahkan, kendaraan dinas pun ada beberapa unit yang mengalami kerusakan demi membantu evakuasi kendaraan lain saat masih dapat dipaksakan untuk melintas.

Bahkan, ada puluhan unit kendaraan yang terjebak genangan air. Sehingga terpaksa para sopir harus parkir di kawasan Jembatan Banut Kalanaman selama berhari-hari. Ironisnya, bagi kendaraan yang mengangkut barang-barang harus pasrah. Sayur mayur bermuatan penuh satu truk membusuk. Ada juga sopir yang mengobral barang dagang kepada warga sekitar.

“Tantangan bagi kita karena banjir kemarin benar-benar dalam, sampai-sampai kendaraan tidak bisa lewat. Sehingga kita terkendala membantu kendaraan yang sudah terlanjur terjebak di tengah – tengah jalur antara banjir. Dan ada masyarakat yang belum sempat dievakuasi,” imbuh Olin.

Sungguh yang dirasakan sangat menekan jiwa dan tenaga. Maka tidak berlebihan jika andil yang diperankan sangat besar, dan patut mendapat gelar wanita perkasa, dan tentu juga masih banyak srikandi-srikandi Polri lain yang terlibat dalam menanggulangi bencana banjir terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Katingan ini. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *