Menenun Harapan di Atas Rawa di Jantung Kalimantan

BARITO SELATAN, inikalteng.com- Kabut pagi menggantung rendah, seperti tirai tipis yang belum rela terbuka. Ketika kaki menjejak tanah lembab di tepian Danau Ganting, dunia terasa beku dalam diam yang agung. Permukaan air gambut memantulkan langit perak dengan tenang yang nyaris mistis, sementara di kejauhan, pohon-pohon galam menjulang seperti penjaga bisu, menyembunyikan rahasia kuno hutan Kalimantan Tengah.

Di sinilah, di Barito Selatan, bentang alam masih berbicara dengan bahasa alam purba. Heningnya bukan sunyi, melainkan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau mendengarkan desir angin, gemericik sungai kecil, dan napas lembut bumi yang terus bernyawa.

Namun, di balik keelokan yang memukau, terpulas sebuah kenyataan yang menggigit: jalan yang tak pernah benar-benar ada, waktu yang bergantung pada aliran sungai, dan hidup yang menunggu kemurahan musim. Ini bukan hanya tentang keterpencilan ini tentang mereka yang selama puluhan tahun berjalan dalam harapan tanpa bentuk.

TMMD ke-124 Menyalakan Harapan

Kehadiran Satgas TMMD Kodim 1012/Buntok melalui gelaran TMMD ke-124, yang mengusung tema “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah,” bagaikan embusan angin baru yang membawa harapan membara di hati warga Desa Danau Ganting.

Bupati Barito Selatan, H. Eddy Raya Samsuri, yang hadir dalam upacara pembukan TMMD Ke 124 membawa pesan penuh semangat dan keyakinan bahwa bukan sekadar pembangunan fisik yang tengah dirajut, melainkan masa depan yang sedang dipahat dengan ketulusan dan kerja keras bersama. “Ini bukan hanya tentang membuka jalan, tapi membuka lembaran baru kehidupan, memberi akses yang selama ini hanya menjadi mimpi. Bersama TNI, kami percaya harapan itu akan menjadi nyata,” ucapnya dengan nada yang penuh harap dan keyakinan.

Satgas TMMD membentangkan geotekstil

Menenun Harapan di Atas Rawa

Lalu pagi itu datang, membawa lebih dari cahaya. Ratusan prajurit berseragam loreng menembus kabut bersama warga, bukan dengan senjata, tapi dengan tekad. Mereka tak hanya datang membangun jalan mereka datang menanam harapan di atas tanah yang selama ini tak dijangkau. Di tengah rawa, di antara nyanyian burung dan lumpur yang lengket, sebuah janji lahir janji akan keterhubungan, janji bahwa mereka tak lagi sendiri.

Di ujung hamparan tanah gambut yang baru dibuka, Komandan Kodim 1012/Buntok Letkol Inf Langgeng Pujut Santoso berdiri diam. Sepatu botnya tenggelam sebagian dalam lumpur yang basah oleh embun pagi, namun matanya tak lepas dari pemandangan di depannya deretan prajurit dan warga yang bahu-membahu membentangkan geotekstil, pelan tapi pasti, seperti menenun jalan di atas rawa.

Angin menerbangkan serpihan tanah kering dan bau khas gambut menyengat hidung, tapi tak satu pun membuatnya berpaling. Ada ketegasan sekaligus keteduhan dalam sorot matanya seseorang yang tahu persis medan yang dihadapi, dan beban yang dibawanya.

“Kami tahu ini bukan pembangunan mudah,” katanya lirih, nyaris tenggelam oleh suara mesin dan langkah kaki. Ia menoleh sejenak, sebelum kembali memandangi timnya yang bekerja tanpa jeda. “Tapi rakyat di sini layak untuk merasakan akses yang adil.”

Itu bukan sekadar pernyataan. Kalimatnya mengandung getaran rasa tanggung jawab yang dalam bahwa jalan yang sedang dibuka ini bukan cuma soal fisik, tapi soal harga diri, soal hak yang terlalu lama tertunda.

Penimbunn jalan

Jalan di Atas Lumpur, Harapan di Atas Gambut

Di depan terbentang bentang sasaran utama peningkatan badan jalan sepanjang 1.800 meter sebuah garis tipis harapan yang berusaha merobek keterpencilan. Tapi tanah ini bukan tanah biasa. Ini adalah lumpur yang bisa menelan kaki hingga lutut, rawa yang diam-diam bergerak seperti makhluk hidup, menggoyahkan siapa pun yang tidak siap berdiri tegak.

Setiap jengkalnya menguji keyakinan. Tanah yang licin dan lemas seolah ingin berkata “Kau takkan bisa.” Tapi justru di sanalah, keteguhan diuji dan dibentuk. Ratusan cerucuk kayu ditanam satu demi satu ditancapkan bukan hanya ke dalam bumi, tapi juga ke dalam tekad. Mereka menjadi tulang punggung dari jalan ini, menyangga beban bukan sekadar material, tapi juga harapan yang terlalu lama menggantung.

Tebal timbunan mencapai 60 sentimeter, ditebarkan dengan sabar, dipadatkan dengan tenaga yang tak kenal lelah. Seiring waktu, jalan itu tumbuh, perlahan namun pasti, hingga membentang sejauh 7.000 meter. Di atasnya, geotekstil kelas dua digelar selebar 10 meter seperti karpet harapan yang menjadi penyangga dari keretakan masa depan. Kemudian beton disusun, disiram, dan dicor setebal 15 cm, selebar 60 cm, tiap lapisnya diukir dengan peluh.

Setiap meter yang jadi bukan sekadar struktur ia adalah kronik dari perjuangan diam-diam. Jalan itu bukan dibangun dengan alat berat saja, tapi dengan tekad yang lebih berat dari lumpur yang hendak menelan semuanya.

Di tengah suara mesin dan hempasan air, Dansatgas Letkol Inf Langgeng Pujut Santoso berdiri. Pandangannya menembus hamparan lumpur seperti menatap sesuatu yang belum terlihat orang lain. Suaranya rendah, namun di dalamnya tersimpan bara keyakinan.

“Kami tahu medan ini tidak mudah,” katanya. “Tapi masyarakat di sini sudah terlalu lama menunggu. Kami takkan mundur.”

Dan dalam kata-katanya, tak hanya mendengar tekad seorang prajurit terdengar gema harapan yang akhirnya mendapat pijakan di atas tanah yang dulunya hanya basah oleh diam.

Pembangunan jembatan

Jembatan, Rumah, dan Sumur Memulihkan Martabat

Langkah kaki menyusuri tanah yang mulai mengering oleh matahari siang. Di hadapan, deretan jembatan darurat sedang direnovasi. Empat unit berukuran 4×4 meter, dulunya hanyalah susunan papan lapuk yang nyaris tak layak dipijak. Tiangnya dari kayu apa adanya, berderit saat dilalui, seakan mengadu nasib dengan setiap beban yang melintas.

Kini, jembatan-jembatan itu dibongkar, diganti dengan struktur yang lebih kokoh, seimbang, dan aman. Bukan hanya untuk roda dua, tapi juga untuk langkah-langkah kecil yang selama ini takut tergelincir dalam lumpur. Dan setiap kayu yang dipasang, setiap paku yang dipukul, terasa seperti penebusan bukan hanya atas kekurangan infrastruktur, tapi atas rasa tak dianggap yang selama ini mereka pendam.

Di sudut lain, aroma kayu basah dan suara palu yang menghentak. Di sana, satgas TMMD Kodim 1012/Buntok dan para tukang bersatu dalam satu irama gotong royong. Tak ada pangkat, tak ada status semua hanya tangan yang bekerja. Tiga puluh rumah yang dulu tak layak huni, kini sedang diubah menjadi tempat berlindung yang pantas.

Pembangunan RTLH

Bau cat baru dan dinding yang masih hangat menyambutku. Di pojok ruangan, seorang nenek duduk di atas tikar, menggenggam tangan cucunya erat-erat. Air matanya jatuh pelan, seperti gerimis yang tak bisa ditahan. “Dulu rumah ini basah tiap hujan,” bisiknya. “Sekarang kami bisa tidur tanpa takut atap bocor.” Tak ada kalimat yang lebih dalam dari itu. Rumah bukan hanya bangunan, ia adalah rasa aman. Dan rasa aman adalah hak, bukan kemewahan.

Tak jauh dari sana, 30 titik sumur gali sedang dikerjakan. Besi, batu, dan tangan yang tak kenal lelah menyatu dalam pekerjaan yang sunyi tapi penuh makna. Air bersih, sesuatu yang selama ini menjadi ironi menyakitkan di desa yang dikelilingi air, kini mulai hadir di halaman rumah-rumah sederhana. Tak perlu lagi menimba dari sungai yang keruh, atau menunggu hujan dengan ember-ember lusuh.

Pemasangan kran pada tangki penampungan air sumur bor

Setiap sumur adalah jawaban. Tapi lebih dari itu, ia adalah simbol bahwa negara hadir bukan hanya untuk membangun, tapi untuk menyembuhkan. Bahwa martabat tidak dibangun dari batu atau beton, melainkan dari rasa dihargai, dan dari keyakinan bahwa mereka tidak dilupakan.

Renovasi mushola di Desa talio

Revitalisasi Kehidupan Masjid, Pasar, dan Sekolah

Di jantung desa, sebuah bangunan tua berdiri dalam kesunyian yang dulu nyaris terlupakan. Mushola itu dulunya kusam, lantainya tanah, dindingnya mulai mengelupas namun kini, ia berdiri kembali dengan wajah baru. Cat putihnya bersinar, lantai keramiknya dingin dan bersih, seolah memanggil jiwa-jiwa untuk kembali pulang.

Saat malam tiba, suara anak-anak mengaji mulai menggema pelan di sela angin malam yang sejuk. Cahaya dari dalam masjid menari di sela jendela, menciptakan siluet harapan baru. Aku duduk sejenak di serambi dan berbincang dengan sang ustaz. Matanya berbinar, suaranya penuh syukur.

“Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah,” katanya, menatap langit yang mulai ditaburi bintang. “Ini pusat kehidupan kami. Tempat kami berkumpul, berbagi, dan mengingat bahwa kami tidak sendiri.”

Tak jauh dari sana, pasar desa yang dulu hanya deretan lapak sunyi kini mulai berdenyut lagi. Warung-warung yang tadinya reyot dibenahi, lantainya dirapikan, dan akses menuju ke sana diperhalus. Warga mulai berjualan dengan senyum yang tak dipaksakan. Pisang, singkong, sayuran segar semua hasil kebun kini tak perlu lagi diangkut dengan perahu ke desa sebelah. Mereka cukup berjalan kaki ke pasar mereka sendiri.

Suara tawar-menawar kembali terdengar. Bukan hanya transaksi, tapi juga bukti bahwa kehidupan kembali berputar. Di balik lembaran uang dan timbangan, ada perasaan baru: bahwa desa ini akhirnya dilihat, dihidupkan kembali.

Dan di sisi lain, deretan ruang kelas yang dulu kusam kini mulai bersinar. Sekolah dasar dan menengah direvitalisasi. Plafon yang dulu bolong kini ditambal rapi. Dinding dicat ulang dalam warna cerah, halaman dibersihkan, dan papan tulis baru terpasang di depan kelas.

Seorang guru berdiri di pintu kelas, tangannya menggenggam kapur putih yang masih baru. Ia menyeka air matanya dengan cepat, seolah tak ingin terlihat rapuh.

“Anak-anak ini butuh tempat yang layak untuk bermimpi,” ujarnya lirih, matanya menatap ke bangku-bangku yang kini kembali terisi.

Ia tak sekadar bicara tentang tembok dan papan tulis. Ia bicara tentang masa depan. Tentang anak-anak desa yang kini bisa menulis takdir mereka sendiri di ruang kelas yang dulu mereka hanya bisa pandangi dari luar.

Kunjungan Tim wasev ke lokasi pembukaan jalan

Kehadiran yang Menguatkan

Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabesad hadir, bukan sebagai pengawas kaku, tapi sebagai sahabat dan penyemangat.

Dipimpin oleh Kolonel Inf M. Herry Subagyo, S.I.P seorang pria yang langkahnya tegas namun penuh perhatian tim itu menyapa warga dengan senyum hangat, menatap mata para prajurit dengan penuh pengertian.

Tak ada jarak, tak ada dingin formalitas. Kolonel Herry tidak datang hanya untuk menilai kerja keras mereka, tapi untuk mengakui jerih payah yang tertumpah di tanah gambut ini. Di sela arahannya, suaranya mengalun tegas namun mengandung harapan.

“Kalian bukan hanya membangun jalan. Kalian membangun masa depan,” ucapnya, menancapkan kata-kata itu seperti api yang menyulut semangat.

Kalimat itu bukan sekadar pujian. Ia menjadi energi, cambuk yang menyalakan kembali api perjuangan di dada setiap prajurit dan warga.

Ketahanan pangan

Ketahanan Pangan dan Lingkungan yang Diperjuangkan

Di ujung barat desa, di tanah yang dulu hanya semak dan bayang-bayang liar, kini terhampar ladang baru. Dua hektar lahan digarap bersama oleh tangan-tangan prajurit dan petani, oleh harapan yang ditanam bersama benih. Di sinilah ketahanan pangan mulai dideklarasikan, bukan lewat pidato, tapi lewat cangkul dan keringat.

Pagi-pagi, suara bajak membelah tanah. Satu demi satu, benih ditanam. Bukan hanya benih jagung atau sayur tapi benih harapan, bahwa desa ini bisa berdiri di atas kaki sendiri. Bahwa ketergantungan pada distribusi luar yang mahal dan tak menentu bisa perlahan dikikis. Bahwa di balik tanah merah dan tangan yang lelah, ada harga diri yang dipertahankan.

Lahan itu bukan ladang biasa. Ia adalah pernyataan diam bahwa mereka tak hanya ingin dibantu, tapi ingin bisa membantu diri sendiri.

Dan di sinilah solidaritas menemukan bentuk paling sederhananya ketika satgas TMMD Kodim 1012/Buntok dan petani menatap ladang yang sama, memikirkan musim yang sama, dan menunggu panen yang sama.

Di sela-sela kerja ladang, tenda kecil didirikan. Di bawah naungannya, warga berkumpul untuk sesuatu yang tak kalah penting penyuluhan lingkungan hidup dan kehutanan. Suaranya mungkin tak sekeras deru alat berat, tapi maknanya tak kalah dalam.

Mereka diajak melihat hutan galam dan rawa bukan hanya sebagai latar belakang kehidupan, tapi sebagai sistem yang menjaga napas desa ini. Bahwa rawa yang tenang adalah reservoir alam yang menyimpan keseimbangan, bahwa hutan galam bukan hanya deretan pohon melainkan warisan. Untuk anak, untuk cucu. Untuk mereka yang belum lahir tapi kelak akan mewarisi apa yang kita jaga hari ini.

Persemian rumah dinas oleh Letjen TNI Tandyo Budi R. S.Sos

Kesejahteraan Prajurit, Rumah Dinas sebagai Warisan Pengabdian

Tak hanya untuk rakyat, TMMD Ke-124 juga memberikan perhatian serius pada kesejahteraan para prajurit. Di tengah semangat membangun dan menanam harapan di tanah rawa, dibangun pula rumah dinas untuk anggota TNI sebagai bentuk apresiasi dan pemenuhan hak dasar mereka.

Rumah dinas tersebut bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Ia adalah lambang penghargaan atas pengabdian di medan sulit, tempat prajurit bisa pulang dengan rasa tenang, dan tempat keluarga mereka bisa tinggal dengan layak dan nyaman.

Peresmian rumah dinas ini dilakukan langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Tandyo Budi R. S.Sos, dalam momen penuh haru saat menghadiri upacara penutupan TMMD Ke-124 Kodim 1012/Buntok.

Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa TMMD tidak hanya membangun desa, tapi juga memperkuat fondasi keluarga prajurit sebagai bagian tak terpisahkan dari kekuatan bangsa.

“Rumah dinas ini bukan hanya untuk berteduh dari hujan dan panas. Ini adalah bentuk negara hadir untuk para penjaganya. Semoga rumah ini menjadi tempat tumbuhnya semangat baru dalam setiap langkah pengabdian,” ujarnya penuh keyakinan.

Jalan Pulang yang Kini Bernama Harapan

Ketika matahari perlahan tenggelam di balik hutan galam, bayangan panjang para prajurit dan warga membaur di atas jalan yang dulu hanya mimpi. Di sini, di tanah yang pernah dibungkam keterpencilan, kini berdiri cerita tentang ketulusan, keteguhan, dan kerja bersama. TMMD Ke-124 bukan sekadar program Pembangunan ia adalah jembatan antara masa lalu yang terasing dan masa depan yang mulai bersinar.

Rawa yang dulu hanya diam, kini berbicara lewat pijakan yang nyata. Dinding sekolah, jembatan kayu, sumur air, ladang hijau, dan rumah dinas tak hanya menjadi infrastruktur, tapi menjadi simbol bahwa mimpi itu bisa dijemput—asal diperjuangkan bersama.

Di Danau Ganting, harapan tak lagi menggantung di balik kabut. Ia telah menemukan jalannya. Dan jalan itu, kini telah bernama: jalan pulang menuju masa depan yang lebih adil,

Penulis : Julius M. Sinaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *