Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat Tembus 1.333 Orang dan Masih Tunggu Hasil Lab

Uncategorized701 Dilihat

BANDUNG, inikalteng.com – Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menyatakan masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan massal setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas pekan ini.

“Uji laboratorium dilakukan dengan koordinasi bersama Labkesmas. Biasanya hasil bisa keluar lebih cepat, sekitar lima hari,” ujar Plt Kepala Dinkes Bandung Barat, Lia N. Sukandar, Jumat (26/9).

Selain sampel makanan, beberapa muntahan siswa yang mengalami keracunan juga tengah diperiksa di laboratorium.
“Ketika kejadian berlangsung kami berada di lokasi, sehingga langsung mengambil dua kantong muntahan pasien untuk diuji,” jelasnya.

Lia menambahkan, Dinkes Bandung Barat terus memantau perkembangan kondisi para siswa terdampak dan memberikan penanganan medis secara intensif.

Jumlah korban keracunan akibat menu MBG di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Bandung Barat, tercatat sudah melebihi seribu orang dan masih terus bertambah hingga Kamis (25/9) malam.

Mengutip laporan detikJabar, hingga Kamis sore jumlah korban keracunan MBG di dua kecamatan tersebut telah mencapai 1.333 orang. Angka tersebut berasal dari tiga klaster dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi penyuplai MBG di wilayah itu.

Kasus pertama muncul dari klaster SPPG Cijambu pada Senin (22/9), di mana 411 anak mengalami keracunan. Kondisi itu membuat Pemkab Bandung Barat menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) sehari kemudian.

Selanjutnya, pada Rabu (24/9) terjadi gelombang keracunan baru dari klaster SPPG Neglasari dengan 730 siswa terdampak. Masih di hari yang sama, kasus serupa juga terjadi di klaster SPPG Mekarmukti, Cihampelas, dengan jumlah korban 192 siswa. Dengan demikian, total korban keracunan MBG di Bandung Barat telah mencapai 1.333 orang.

Sejak program MBG diluncurkan pada awal Januari lalu, berbagai persoalan terus muncul. Mulai dari dugaan menu yang tidak sesuai gizi, ditemukan bahan makanan busuk atau basi, hingga kasus keracunan massal seperti yang terjadi belakangan ini.

Rangkaian masalah tersebut mendorong pemerintah untuk menghentikan sementara sekaligus mengevaluasi program MBG.

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sedikitnya 4.711 orang mengalami kejadian luar biasa akibat keracunan MBG. Data tersebut merupakan akumulasi hingga Senin (22/9) dan terbagi dalam tiga wilayah: Wilayah I (Sumatra) sebanyak 1.281 orang, Wilayah II (Jawa) sebanyak 2.606 orang, serta Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur) sebanyak 824 orang.

Namun, sepanjang pekan ini kasus dugaan keracunan MBG masih dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Bandung Barat.

Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang tergabung dalam koalisi pemantau program ini mencatat jumlah kasus keracunan MBG per 21 September 2025 telah mencapai 6.425 kasus.

Jumlah tersebut naik 1.092 kasus dalam kurun tujuh hari, dari 5.360 kasus yang tercatat per 14 September 2025 sejak program MBG digulirkan awal tahun ini.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, dalam siaran pers pekan ini menyebutkan bahwa data per 21 September menunjukkan kasus keracunan MBG terbanyak terjadi di Jawa Barat dengan 2.012 kasus, disusul Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 1.047 kasus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *