TAMIANG LAYANG, inikalteng.com – Dalam upaya meningkatkan kreativitas dan menyalurkan bakat serta membina potensi pemuda dan remaja di bidang multimedia, Karang Taruna Kabupaten Barito (Bartim), kembali menyelenggarakan Les Content Creator Youtuber, Minggu (6/2/2022).
Kegiatan yang diikuti 14 orang peserta tersebut menampilkan dua narasumber yakni Yulius Yartono dan Shuri selaku anggota Youtuber Indonesia, asal Bambulung, Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Bartim.
Ketua Karang Taruna Bartim Santai Nyawit SSos MSi mengatakan, kegiatan les ini sengaja melibatkan remaja dan pemuda usia 15-30 tahun yang punya hobby di bidang multimedia dan media sosial.
“Dengan adanya les content creator ini, diharapkan kreativitas dan potensi pemuda dan remaja bisa terbina. Sehingga berkembang, dan mereka bisa membuat konten video yang mempunyai nilai jual, bisa diposting di media sosial YouTube, Instagram dan Facebook yang bisa menghasilkan uang untuk menambahkan pendapatan,” jelas Santai.
Les content creator kali ini dilaksanakan di Ampah dengan media pembuatan konten adalah khusus smartphone dengan jumlah sesi les sebanyak 10 kali pertemuan.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bartim, Yulius Yartono, yang juga aktif sebagai Youtuber Indonesia, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Karang Taruna Bartim yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan les ini.
“Melalui pelatihan dasar atau les content creator ini diharapkan akan melahirkan calon-calon youtuber yang handal dan bisa menghasilkan pendapatan,” ucap Yulius, usai memberikan materi tentang tahapan memaksimalkan penggunaan kamera video shooting.
Dijelaskan, ada beberapa langkah yang wajib diketahui peserta terkait penggunaan kamera video shooting. Di antaranya, kenali dan pahami kamera video.Jika menggunakan Smatphone, pastikan mengetahui cara pemakaian kameranya. Paling tidak, mengetahui fungsi setiap menu atau tombol pengaturan, seperti zoom, tombol auto manual, dan lain-lain.
“Semua alat yang akan digunakan harus benar-benar dikuasai supaya meminimalkan terjadinya kesalahan pengambilan gambar atau obyek yang akan kita shooting,” jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, pastikan merekam gambar yang layak untuk disimpan dan dipublikasikan. Di sini seorang kameramen harus selalu mengetahui keadaan gambar yang yang direkam baik pencahayaan, fokus gambar, sudut pengambilan gambar, background objek, dan lain-lain. Berikutnya, rekaman video yang layak dinikmati pemirsa dalam teknik pengambilan video shooting, kameraman harus mengetahui kualitas videonya.
Rekaman video yang layak dinikmati harus memenuhi kriteria di antaranya, balance, dan framing. Kemudian, compositions apakah horizontal lines, vertical lines, thirds ratio, diagonal lines, triangle, perspective, looking room, walking room, head room, golden meann background dan foreground.
Dijelaskan, hasil rekaman video yang selesai edit layak untuk tonton, umumnya melewati tahapan di antaranya pra produksi yakni proses perencanaan dan persiapan produksi sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan khalayak sasaran yang dituju, persiapan fasilitas dan teknik produksi, mekanisme operasional dan desain kreatif.
Sedangkan untuk bisa merekam video dengan baik, jika memungkinkan selalu pergunakanlah manual focus, aturlah white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan. “Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya,” ungkap Yulius.
Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), si perekam harus memegang dan mengendalikan kamera video sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil. Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi pengambilan gambar. Tapi, hindari penggunaan zooming pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja. Karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing). Selanjutnya, pastikan untuk memproses lebih lanjut (editing) setiap hasil rekaman. Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan
“Yang perlu diingat, jaga durasi setiap shot, jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung action yang direkam. Namun sebaiknya sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum action berlangsung. Shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu shot akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik,” tutur Yulius. (yr/red1)










