Hardiknas Momentum Refleksi Kritis Bagi Masa Depan Peradaban di Kalteng

PALANGKA RAYA, inikalteng.com– Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 menjadi momentum refleksi kritis bagi masa depan peradaban di Kalimantan Tengah.

Di tengah optimisme menuju visi “Indonesia Emas 2045”, muncul kekhawatiran serius terhadap ancaman yang disebut sebagai “Generasi Peradaban Dayak Gelap 2045”, yang dinilai berakar pada krisis moral, sosial, dan pendidikan.

Sejumlah kalangan menilai ancaman tersebut bukan berasal dari faktor eksternal, melainkan akibat pembusukan internal yang kian meluas.

“Ancaman terhadap peradaban Dayak saat ini bukanlah invasi dari luar, melainkan pembusukan internal dan dekadensi moral,” ungkap Pemuda Dayak, Dr. Ari Yunus Hendrawan, dalam refleksi Hardiknas tersebut, Sabtu (2/5/2026).

Kondisi ini diperkuat dengan berbagai indikator di lapangan, salah satunya maraknya penyalahgunaan narkotika yang disebut telah menjadi “pandemi sosiologis” hingga menembus ruang keluarga. Bahkan, fenomena normalisasi penggunaan narkoba di lingkungan domestik turut menjadi sorotan.

“Keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru menormalisasi konsumsi zat terlarang, bahkan menganggap sabu-sabu sebagai ‘vitamin’ penunjang kerja,” lanjutnya.

Tak hanya itu, sektor pendidikan juga menghadapi tantangan serius. Meski pemerintah daerah telah menggulirkan program bantuan pendidikan seperti Tabungan Beasiswa Berkah (TABE), realitas menunjukkan masih tingginya angka putus sekolah.

Data menyebutkan lebih dari 37 ribu pelajar di Kalimantan Tengah berisiko drop out, dengan rata-rata lama sekolah yang stagnan di kisaran 8,8 tahun.

Di sisi lain, peran institusi pendidikan tinggi turut menjadi perhatian, khususnya Universitas Palangka Raya (UPR). Diskursus pemilihan rektor yang diwarnai hasil survei mahasiswa memunculkan perdebatan terkait pentingnya identitas lokal dalam kepemimpinan kampus.

“Mengabaikan nilai perjuangan lokal atas nama kualitas universal berisiko melahirkan kebijakan yang elitis dan tercerabut dari realitas masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, kepemimpinan yang dibutuhkan bukan hanya soal kapasitas akademik, tetapi juga empati kultural terhadap kondisi masyarakat Dayak. Hal ini dinilai penting dalam menghadapi krisis multidimensional yang mencakup aspek moral, kultural, dan edukasional.

Sebagai solusi, sejumlah gagasan turut disampaikan, di antaranya perlunya transformasi sistem pendidikan berbasis kesadaran kritis serta penguatan nilai-nilai lokal seperti Huma Betang, Belom Bahadat, dan semangat Isen Mulang. Pendekatan ini diyakini mampu membangun kembali karakter generasi muda agar tidak terjerumus dalam mentalitas instan dan apatis.

“Pendidik harus mengambil peran sebagai ‘pembawa suluh’ yang berani membimbing generasi muda keluar dari kegelapan, meski prosesnya penuh tantangan,” ujarnya.

Refleksi ini juga menekankan pentingnya peran kolektif masyarakat dalam menyelamatkan generasi muda. Pendampingan, keteladanan, serta kepedulian lingkungan dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai krisis yang terjadi.

Dengan berbagai tantangan tersebut, Hardiknas 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum kebangkitan kesadaran bersama untuk mencegah lahirnya generasi yang kehilangan arah menuju 2045.

 

Penulis : Ardi

Editor : Ika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *