FWK: Sektor Riil Mendesak Dibenahi, Masih Ditemukan Kelangkaan BBM di Sejumlah Sentra Produksi Pertanian

Nasional, Top News130 Dilihat

JAKARTA, inikalteng.com – Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) mempertanyakan klaim pemerintah yang menyatakan bahwa daya beli masyarakat membaik, mengingat di sejumlah sentra produksi pertanian Sumatera terjadi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan BBM bersubsidi lainnya yang mengakibatkan kegiatan ekonomi rakyat terganggu. Ini sinyal kuat, sektor riil perlu dibenahi.

“Bagaimana daya beli masyarakat membaik jika masih terjadi kelangkaan Solar di Sumatera. Akibat tidak ada Solar, sopir truk tak bisa mengangkut hasil bumi petani. Pisang busuk karena tak bisa diperdagangkan,” ujar Koordinator FWK Raja Parlindungan Pane dalam Diskusi Kebangsaan di Jakarta, Rabu (5/5/2026).

Diskusi ini dihadiri mantan Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019-2022, Hendry Ch Bangun, sejumlah pemimpin redaksi media massa dan wartawan senior anggota FWK, mengkritisi berbagai perkembangan dan kinerja ekonomi nasional.

Raja Pane memperkaya diskusi ini, dengan menyampaikan temuan lapangan selama perjalanan jurnalistiknya ke Sumatera dari akhir April hingga minggu pertama Mei 2026.

Mantan wartawan Kompas, Hendry Bangun mengatakan, masalah di sektor riil perlu segera dibenahi. Diakui pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi, seperti Solar dan Pertalite. Namun, masalahnya ada dalam distribusi dan ketersediaan BBM bersubsidi. Di sejumlah daerah seperti Sumatera, Kalimantan, beberapa titik di Jabodetabek, masih terjadi kelangkaan Solar dan Pertalite.

Peserta diskusi lainnya mencatat adanya kenaikan harga kebutuhan masyarakat sehari-hari. Harganya melonjak tinggi, seperti minyak goreng, gas, dan berbagai komoditas pokok lainnya.

Masalahnya seperti Solar, terletak pada ketersediaannya yang belum merata dan tepat waktu. Saat rakyat sangat membutuhkan, barangnya hilang dari pasaran. Ini terjadi juga pada minyak goreng dan gas melon.

Pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk Minyakita senilai Rp15.700 per liter, tapi di pasaran harganya jauh di atas HET. Anggota FWK di Jabodetabek sering menemukan, Minyakita menghilang dari pasaran. Sementara minyak goreng bermerek lainnya, harga melonjak tinggi mengikuti fluktuasi harga CPO internasional. Ini membuat emak-emak menjerit karena biaya kebutuhan dapur terus bertambah, sementara penghasilannya tidak meningkat. (*)

Sumber: Rilis
Editor: Zainal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *