SAMPIT, inikalteng.com – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terus mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sampit, akumulasi hotspot terus bertambah seiring menurunnya curah hujan dan kondisi wilayah yang mulai mengering.
Berdasarkan rekapitulasi hotspot oleh BMKG sampit dalam 24 jam terakhir pada tanggal 14 Januari 2026, terpantau ada 15 sebaran hotspot di enam kecamatan. Sementara pada 15 Januari 2026, terpantau berjumlah sembilan hotspot di dua kecamatan.
Prakirawan BMKG Kotawaringin Timur, Rizaldo Raditya Pratama mengatakan, meningkatnya kemunculan hotspot ini mulai terjadi sejak dua hari terakhir. Hal ini tidak terlepas dari kondisi curah hujan yang mulai menurun di wilayah Kotim.
“Dalam beberapa hari terakhir, curah hujan cenderung berkurang dan sifat hujannya ringan serta singkat. Kondisi ini membuat lahan, terutama lahan gambut, menjadi kering dan sangat mudah terbakar,” ujarnya.
Munculnya hotspot sejalan dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, dengan luas lahan terbakar mencapai enam hektare. Wilayah ini sekaligus menjadi salah satu lokasi, dengan jumlah titik hotspot terbanyak pada tanggal 15 Januari yang mencapai delapan hotspot.
Rizaldo menambahkan, munculnya hotspot bukan menjadi penanda jika di titik itu telah terjadi karhutla. Hotspot muncul karena lokasi di permukaan bumi yang terdeteksi oleh satelit memiliki suhu lebih tinggi dari sekitarnya, Sehingga menjadi indikator awal terjadinya karhutla.
“Munculnya hotspot ini bukan berarti di titik itu ada karhutla, namun sebagai indikator awal,” jelasnya.
Rizaldo juga memperkirakan, Sebaran hotspot di Kotim dalam beberapa hari kedepan akan terus meningkat. Hal ini seiring dengan potensi terjadinya karhutla yang tinggi di daerah ini.
“Meskipun masih ada hujan, karena intensitasnya kecil dan durasinya singkat, hujan tersebut diperkirakan belum mampu membasahi seluruh lahan. Biasanya hanya permukaan saja yang basah,” pungkasnya.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ika










