oleh

Wartawan Dibekali Pedoman Penulisan Ramah Anak

PALANGKA RAYA, inikalteng.com – Lahirnya Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak berimbas pada pekerja pers. Sebagai tindaklanjut UU tersebut, Dewan Pers mengeluarkan panduan pedoman penulisan ramah anak (PPRA). Pedoman ini menjadi rambu-rambu bagi wartawan dalam menulis berita anak agar terhindar dari persoalan hukum.

Menyingkapi hal ini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar pelatihan penulisan berita ramah anak bagi kalangan wartawan di Aula Hotel Neo, Palangka Raya, Selasa (20/9/2021).

Narasumber dari PWI Pusat juga sebagai Anggota Komisi Pendidikan, Refa Riana, memaparkan bahwa ada 12 pedoman dalam penulisan ramah anak.  Antara lain, wartawan harus merahasiakan identitas anak dalam memberitakan informasi tentang anak, khususnya yang diduga, disangka, didakwa melakukan pelanggaran hukum.

Baca Juga :  Masa Pandemi Jadi Peluang dan Tantangan bagi Media

Kemudian lanjutnya, wartawan dalam memberitakan secara faktual dengan kalimat, narasi, visual, audio yang bernuansa positif, tidak membuat deskripsi atau rekonstruksi persitiwa yang bersifat seksual dan sadis.

“Wartawan tidak boleh mencari atau menggali informasi mengenai hal-hal di luar kapasitas anak untuk menjawabnya,” tegas Refa.

Seperti misalnya, peristiwa kematian, perceraian, perselingkuhan orangtuanya, keluarga, serta kekerasan atau kejahatan, konflik dan bencana yang dapat menimbulkan trauma pada anak di kemudian hari.

Baca Juga :  PWI Kalteng Terima Donasi Sembako dari Bulog

Kemudian disebutkan pula, meski wartawan dapat mengambil visual untuk melengkapi informasi tentang peristiwa anak terkait persoalan hukum, namun tidak menyiarkan visual dan audio identitas anak.

Termasuk sambungnya, dalam hal pemberitaan positif soal prestasi anak. Wartawan juga diingatkan agar mempertimbangkan dampak psikologis anak dan efek negatif pemberitaan yang berlebihan. Hal ini dapat membuat dampak buruk bagi anak dikemudian hari.

“Wartawan harus menghindari pengungkapan identitas anak sebagai pelaku, saksi dan korban. Kemudian inisial anak, alamat lengkap, tidak boleh diungkapkan dalam publikasi,” ujarnya.

Karena itu, Refa mengharapkan, setelah mendapatkan pengetahuan para wartawan mampu memahami dengan baik berbagai rambu yang menjadi perhatian saat menulis kasus berkaitan dengan anak supaya tidak terlibat persoalan hukum.

Baca Juga :  Anggota PWI dan IJTI Terima Bantuan dari Sugianto Sabran

Sementara itu, Ketua PWI Kalteng H Harris Sadikin berharap pelatihan tersebut dapat menambah pengetahuan wartawan mengenai apa saja yang dilarang dalam menulis berita berkaitan dengan kasus anak.

Mengingat anak memang selayaknya untuk dilindungi demi masa depan mereka di masa mendatang, Harris mengingatkan wartawan untuk menggunakan hati nurani dalam menulis berita. Jangan hanya karena ingin mengejar pemberitaan yang menarik tetapi berdampak negatif bagi para anak yang terlibat kasus. (adn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA