Rajin menambung pangkal kaya! Sebuah kalimat yang sering Anda dengar sejak masih kecil. Pada saat itu, Anda diajarkan untuk menabung di celengan atau di Bank. Namun, tahukah Anda? Uang yang telah ditabung tersebut malah semakin menurun nilainya dari tahun ke tahun.
Kok bisa? Saya kan sudah menyimpan duit saya di Bank. Pasti aman donk! Ngga mungkin dicuri.
Ya, uang Anda tidak dicuri, namun tabungan Anda akan kalah dengan yang namanya inflasi.
Apa itu inflasi?
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus yang terjadi setiap tahun. Contohnya, harga mie instan yang masih 1.350/bungkus di 2010, namun sekarang harganya sudah menjadi 2.600/bungkus di 2022.
Ternyata nilai uang yang Anda simpan di Bank berbanding terbalik dengan harga barang yang semakin naik setiap tahunnya. Mie instan yang dulunya dapat dibeli sebanyak 7 bungkus dengan uang 10 ribu, ternyata sekarang hanya dapat membeli sekitar 4 bungkus saja. Hal ini membuktikan nilai uang yang Anda simpan cenderung semakin menurun.
Apa penyebab inflasi?
Inflasi juga dapat disebabkan oleh banyak faktor. Secara umum, ada empat faktor yaitu:
Faktor pertama adalah demand dan supply (permintaan dan penawaran). Ini merupakan prinsip ekonomi paling dasar dan selalu terjadi dimana pun. Jika permintaan banyak tapi jumlah barangnya sedikit maka harga barang menjadi naik. Sedangkan, jika permintaan sedikit tapi jumlah barangnya banyak maka harga barang akan turun. Oleh karena itu, dikarenakan setiap tahun jumlah penduduk dan gaji cenderung bertambah maka demand dan supply meningkat. Itu berujung pada terjadinya inflasi.
Faktor kedua, inflasi disebabkan oleh peningkatan biaya produksi. Harga barang di pasaran akan meningkat jika bahan baku dan proses pembuatan barang tersebut mengalami kenaikan. Misalnya terjadi kenaikan BBM seperti bensin, solar, dan sejenisnya. Maka biaya distribusi akan ikut naik. Oleh sebab itu, perusahaan terpaksa menaikan harga barang yang diproduksi agar tetap untung.
Faktor ketiga adalah jumlah uang beredar. Meningkatnya jumlah uang beredar di masyarakat ternyata memicu terjadinya inflasi. Contohnya, pemerintah memberikan THR pada hari raya lebaran. Pada bulan itu, kecenderungan masyarakat untuk menjadi konsumtif semakin tajam. Karena merasa punya uang lebih, masyarakat akan berbondong-bondong membelanjakan gaji THR mereka. Banyaknya permintaan di pasar memicu penjual menaikan harga barang agar lebih utung. Oleh sebab itu, terjadilah inflasi.
Faktor terakhir adalah impor barang dari luar negeri. Harga barang impor ternyata memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Jika importir mendapatkan barang dengan harga tinggi, mereka cenderung menaikan harga untuk konsumen dalam negeri. Kenaikan harga barang impor dapat terjadi akibat negara pengimpor mengalami inflasi yang tinggi atau perubahan kebijakan bea cukai.
Mengapa Menabung di Bank Kalah dengan Inflasi?
Di zaman sekarang, menyimpan uang di Bank dalam jangka panjang menjadi tidak ideal lagi karena adanya inflasi. Uang yang Anda simpan tidak akan bertumbuh, sedangkan harga barang terus naik. Ini menyebabkan apa yang Anda dapat beli di 2010, tidak akan sama dengan barang yang Anda dapat beli di 2030 nanti.
Silahkan Anda lihat ilustrasi di bawah ini:
Pada tahun 2007, Budi ingin membeli rumah A seharga 800 Juta. Ia akhirnya memutuskan menabung di Bank dari sekarang untuk mencapai impiannya. Targetnya, Budi akan mencapai 800 Juta pada 15 tahun lagi. Namun tidak disangka, harga rumah A yang Budi incar sudah menjadi 1,3 Miliar pada tahun 2022. Padahal uang 800 Juta sudah ia kumpulkan dengan susah payah.
Selain itu, menabung uang di Bank akan dikenakan biaya administrasi per bulan. Itu berarti uang Anda cenderung terus berkurang daripada bertambah. Inflasi terus terjadi, sedangkan uang Anda hanya diam. Melihat fenomena ini, sebenarnya Anda telah menggantungkan harapan tanpa hasil yang jelas!













