oleh

Masyarakat Kotim Diimbau Kurangi Kebiasaan Beraktivitas di Sungai

SAMPIT – Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diimbau untuk mengurangi kebiasaan mandi, cuci, kakus (MCK), buang air besar (BAB) dan lainnya di sungai, salah satunya di sungai Mentaya. Selain agar sungai tersebut tidak tercemar, juga untuk menghindari bahaya akibat teror buaya yang belakang ini mengancam warga yang sedang beraktivitas di sungai Mentaya.

“Saya berharap agar masyarakat terutama yang tinggal di tepian Sungai Mentaya, tidak lagi BAB maupun melakukan aktivitas lainnya seperti mandi dan mencuci di sungai. Agar sungai kita ini tidak tercemar,” ujar Ketua DPRD Kotim, Dra Rinie di Sampit, Jumat (8/1/2021).

Baca Juga :  Rayakan Natal, Ketua DPRD Kotim Gelar Open House

Selain itu, bahaya yang bisa mengancam masyarakat akhir-akhir ini adalah teror buaya yang kerapkali dikabarkan muncul di sungai Mentaya. Bahkan baru-baru ini seorang anak berusia 9 tahun dan seorang ibu rumah tangga di Sampit menjadi sasaran buaya hingga mengalami luka parah. Di mana di anak yang merupakan warga Genepo Sampit, kaki dan organ tubuh lainnya digigit buaya. Sedangkan seorang ibu yang sudah lanjut usia (lansia) mengalami patah kaki dan kehilangan sebelah tangannya karena diserang buaya di sungai Mentaya.

Baca Juga :  UMPR Salurkan Bantuan Kepada Korban Banjir Kalsel

“Ini artinya masyarakat selain dari sekarang harus membiasakan berpola hidup sehat, juga harus menjaga diri dari serangan buaya,” kata Rinie.

Menurut dia, upaya Pemkab Kotim untuk membangun tempat MCK buat masyarakat, sudah sangat baik. Namun diharapkan juga kesadaran masyarakat supaya meninggalkan kebiasaan MCK di sungai. Hal ini memang perlu proses dan pemahaman serta kesadaran masyarakat untuk merubah pola lama menuju ke kebiasaan baru. “Kami juga minta kepada Pemkab Kotim untuk terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Belasan Pegawai Sekwan Kotim Reaktif

Rinie mengingatkan, saat ini habitat buaya tampaknya sudah sangat terganggu. Buktinya, saat ini sudah terjadi lagi konflik antar manusia dengan buaya hingga menimbulkan korban. Itu berarti, masyarakat harus waspada, salah satunya meninggalkan kebiasaan beraktivitas di sungai.

“Konflik manusia dengan buaya, terjadi lantaran habitat buaya terganggu. Mungkin mereka kelaparan karena sulit mencari makan, hingga akhirnya manusialah yang jadi sasarannya,” tukas Rinie. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA