KSPI Prediksi 9 Ribu Pekerja Indonesia Terancam PHK Dalam Tiga Bulan Ke Depan

Nasional, Peristiwa289 Dilihat

JAKARTA, INIKALTENG.COM – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkap ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terjadi di sejumlah kawasan industri di Indonesia. Gelombang PHK disebut mulai menghantam sektor manufaktur dan industri padat karya di tengah tekanan ekonomi global serta situasi geopolitik yang memanas.

Wakil Presiden KSPI Kahar S. Cahyono mengatakan pihaknya sejak beberapa bulan lalu telah mengingatkan adanya potensi pengurangan tenaga kerja. KSPI memperkirakan sekitar 9.000 pekerja berpotensi kehilangan pekerjaan di 10 perusahaan dalam tiga bulan ke depan.

“Sejak beberapa bulan yang lalu, KSPI sudah mengingatkan akan adanya ancaman PHK di bawah bayang-bayang perang,” ujar Kahar dalam konferensi pers, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, laporan PHK kini mulai masuk dari sejumlah perusahaan di wilayah industri seperti Bogor, Serang, hingga Sidoarjo. Di Kabupaten Serang, PHK dilaporkan terjadi di PT Nikomas dengan 279 pekerja terdampak, PWI 2 sebanyak 223 pekerja, serta PT Sin Han Babis sebanyak 176 pekerja. Sementara di Jawa Timur, sekitar 200 pekerja di PT dan CV Toyota Asri Motor juga dilaporkan terkena PHK.

“PHK itu saat ini sudah mulai ada. Jadi ini bukan lagi sekadar potensi karena laporan terkait PHK sudah mulai masuk,” katanya.

KSPI juga menyoroti data Kementerian Ketenagakerjaan yang mencatat sebanyak 15.425 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, kenaikan terbesar terjadi pada April dengan 7.036 pekerja kehilangan pekerjaan atau meningkat sekitar 83,9% dibanding periode Januari-Maret yang mencapai 8.389 orang.

Selain tekanan global, KSPI menilai kenaikan harga BBM industri turut memperburuk kondisi perusahaan. Menurut Kahar, kenaikan biaya energi berdampak langsung terhadap ongkos produksi sehingga perusahaan memilih melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

“Ketika BBM industri meningkat, otomatis biaya produksi naik. Saat ongkos produksi naik, perusahaan akan melakukan efisiensi dan salah satu dampaknya adalah pekerja kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *