oleh

Kenang Ikon Sejarah Dayak, Teras Dorong Revitalisasi Jembatan Bowstring

PALANGKA RAYA, inikalteng.com – Keberadaan jembatan Bowstring atau Tali Busur merupakan bagian dari sejarah bagi perkampungan tua di Provinsi Kalimantan Tengah, salah satunya Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas.

Sebagi bentuk upaya mengenang sejarah, Anggota DPD RI pemilihan Kalteng, Agustin Teras Narang, mendorong Pemerintah Pusat untuk membantu merevitalisasi jembatan kayu bersejarah pernah ada di Mandomai untuk dijadikan ikon mengenang sejarah bagi masyarakat Kalteng.

Hal itu diungkapkan Teras saat berdiskusi dengan lkatan Arsitek Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah tentang Historic Urban Landscape atau Lanskap kota bersejarah kawasan Mandomai di Kabupaten Kapuas malam ini, Minggu (22/1/2022).

” Mandomai adalah salah satu perkampungan Dayak tertua di Kecamatan Kapuas Barat. Letaknya strategis dengan jarak sekitar 120 Km dari Kota Palangka Raya dan 60 Km dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di sini ada warisan besar sejarah kebudayaan khususnya berkaitan dengan teknik perkayuan yang merupakan bagian dari kemajuan peradaban Dayak kala itu ” cerita Teras.

Teras menuturkan, ada satu jembatan ikonik yang dulu dibangun beberapa dekade lalu. Jembatan ini terbuat dari kayu ulin dan dibangun oleh arsitek dari Swiss bernama Heinz Frick melibatkan sumber daya manusia lokal. Jembatan bowstring atau tali busur ini merupakan gabungan dari jembatan gantung dan jembatan lengkung yang dibangun menyesuaikan kondisi wilayah Mandomai dengan anjirnya yang eksotis.

Baca Juga :  Pemerintah Diminta Tidak Hanya Fokus Bangun Infrastruktur

” Jembatan yang dibangun pada tahun 1975 ini merupakan satu dari 3 jembatan kayu yang dulu dibangun di wilayah Kalimantan Tengah. Sayangnya, jembatan kayu terakhir di Mandomai telah dibongkar pada 2020 lalu karena alasan keamanan ” ungkapnya.

Meski demikian, sambung Teras, melalui para arsitek yang mencintai sejarah peradaban dan kebudayaan Dayak di kawasan Mandomai ini, disampaikan harapan agar kawasan eksotis dengan sumber daya perairannya itu dapat direvitalisasi. Revitalisasi ini berkaitan dengan penataan dan pengembangan kawasan kebudayaan dengan ikon jembatan Mandomai yang dibangun kembali menurut versi lawasnya, menggunakan kayu ulin dengan penyesuaian ketinggian dari versi aslinya.

Menurut Gubernur Kalteng periode 2005-2015 inu, revitalisasi kawasan dengan pembangunan kembali jembatan kayu Mandomai penting sebagai edukasi kesejarahan sekaligus landasan menangkap perubahan zaman yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan. Revitalisasi kawasan dan pembangunan kembali jembatan kayu Mandomai, berarti membangun jembatan kesejarahan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan sebagai simbol jembatan peradaban yang terus berkembang dengan nilai-nilai kebudayaan yang tetap terpelihara.

Baca Juga :  Masyarakat Diminta Tidak Khawatir Terima Pasien Sembuh Covid-19

” Saya berharap kementerian terkait, baik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dapat meninjau kawasan ini ” harap.Teras.

Tentunya dengan dukungan pemerintah daerah, agar revitalisasi kawasan ini dapat dilakukan sebagai bagian dari pembangunan ciri khas dan keunggulan daerah. Hal ini sejalan dengan pesan Presiden Joko Widodo yang baru-baru ini di Sentul menyampaikan para Kepala Daerah untuk secara kreatif mencari ciri khas daerahnya masing-masing untuk dijual.

” Revitalisasi kawasan dengan pembangunan kembali atau rekonstruksi jembatan Mandomai menggunakan bahan kayu sesuai model aslinya, bisa jadi pintu masuk untuk membangun keunggulan khas daerah ini. Terlebih di kawasan ini ada SMK Mandomai yang memiliki sejarah sebagai lembaga pendidikan teknik kayu tertua di Indonesia, yang pada tanggal 23 Januari 2023, akan mengadakan HUT ke-56, sekaligus reuni para alumninya” sebut dia.

Baca Juga :  Bupati Barut Tinjau Pembangunan Mesjid Raya Sirotol Mustaqim

Terlebih ungkap Teras, SMK Mandomai merupakan aset GKE sekaligus aset daerah yang dapat diintegrasikan dengan revitalisasi kawasan yang diharapkan dapat menjadi wisata sosial, budaya, dan arsitektur. Selain membangun kawasan, ada semangat pembangunan kualitas sumber daya manusia dari teknik perkayuan.

Kemudian langkah revitalisasi ini diyakini oleh para intelektual muda Kalteng ini akan mendapat perhatian secara global, mengingat jembatan kayu Mandomai bila direkonstruksi sesuai bentuk aslinya akan menjadi diskursus pecinta arsitek global. Terlebih catatan sejarah dan detail catatan pembangunannya juga masih tersimpan rapi.

” Atas pertimbangan ini, saya harap revitalisasi kawasan dengan pendekatan Historic Urban Landscape di Mandomai dapat memperkuat daya saing dan keunggulan daerah ” kata Teras. (adn/red4)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA