oleh

Kenaikan Harga Bahan Makanan Dominan Mempengaruhi Terjadinya Inflasi

PALANGKA RAYA – Pada November 2019 lalu inflasi di Kota Palangka Raya tercatat 0,46 persen atau mengalami kenaikan Indeks Harga (IH) dari 133,96 persen di bulan Oktober 2019 menjadi 134,58 persen di bulan November 2019.

Terjadinya inflasi di Palangka Raya ini dipengaruhi oleh kenaikan IH pada kelompok bahan makanan 1,94 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,49 persen, sandang 0,35 persen, dan kesehatan 0,34 persen.

Sedangkan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terjadi inflasi sebesar 0,26 persen atau mengalami kenaikan IH dari 140,51 persen di bulan Oktober 2019 menjadi 140,88 persen pada bulan November 2019.

Inflasi di Sampit ini dipengaruhi oleh meningkatnya IH kelompok bahan makanan 1,36 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,39 persen, dan kesehatan 0,20 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Yomin Tofri mengatakan, indeks harga di Provinsi Kalteng, dikompilasi berdasarkan gabungan dua kota rujukan yakni Palangka Raya dan Sampit. Selama November 2019, terjadi inflasi sebesar 0,39 persen atau terjadi kenaikan IH dari 136,27 persen di bulan Oktober 2019 menjadi 136,80 persen di bulan November 2019.

Baca Juga :  Pimpinan Baznas Kalteng Periode 2020-2025 Dilantik

“Terjadinya inflasi di Kalimantan Tengah selama November 2019, lebih dipengaruhi oleh kenaikan IH komoditas/jasa pada komponen harga bergejolak (volatile foods), baik di Palangka Raya 0,41 persen maupun di Sampit 0,39 persen,” jelas Yomin Tofri kepada wartawan di Palangka Raya, Senin (2/12/2019).

Dikatakan, komponen harga inti (core inflation) berkontribusi lebih tinggi terhadap inflasi di Palangka Raya 0,24 persen dibandingkan Sampit 0,05 persen. Sementara sebagian besar komoditas dalam komponen yang diatur pemerintah (administered prices) berkontribusi negatif terhadap pembentukan inflasi di Palangka Raya 0,19 persen dan Sampit 0,18 persen.

Baca Juga :  Pasutri Tertimpa Pohon Tumbang

Selama bulan november 2019, papar Yomin Tofri, harga komoditas daging ayam ras memberikan pengaruh cukup tinggi terhadap inflasi, baik di Palangka Raya sebesar 0,24 persen maupun Kota Sampit sebesar 0,35 persen.

Ikan gabus juga memberikan adil terhadap angka inflasi di Palangka Raya 0,10 persen dan Sampit 0,04 persen.

Kelompok pengeluaran yang dominan mempengaruhi ini adalah naiknya IH bahan makanan 1,72 persen serta makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,45 persen.

Laju inflasi tahun kalender 1,78 persen secara umum dipicu oleh kenaikan IH kelompok sandang 5,12 persen, bahan makanan 4,18 persen, serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga 3,46 persen.

“Laju infasi tahun ke tahun 3,02 persen, masih didominasi oleh pengaruh kenaikan IH kelompok bahan makanan 6,24 persen, sandang 5,27 persen, pendidikan, rekreasi, dan olahraga 3,38 persen, dan kesehatan 3,02 persen,” paparnya.

Baca Juga :  Disdukcapil Diminta Maksimal Menata Dokumen Adminduk

Sedangkan IH sebagian besar komoditas dan jasa di tingkat pedagang eceran, relatif berfluktuasi sepanjang tahun di kedua kota tersebut. Selama tiga bulan terakhir, rata-rata inflasi tahun 2019 relatif lebih tinggi dibandingkan tahun 2018.

Rata-rata inflasi di Palangka Raya juga lebih tinggi dibandingkan di Sampit. Namun demikian, indikasi lonjakan inflasi selama November 2019 memiliki pola yang sama, baik di Palangka Raya maupun Sampit.

“Secara umum, penurunan IH pasca hari raya Idul Fitri, juga dibarengi oleh kenaikan harga pada jasa pendidikan dan beberapa komoditas terkait dengan keperluan pendidikan di tahun ajaran baru,” beber Yomin Tofri.

Diungkapkan pula, tarif jasa angkutan udara memiliki kontribusi terbesar terhadap potensi terjadinya deflasi di Palangka Raya 0,19 persen dan Sampit 0,19 persen.(red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA