oleh

Kebijakan Moneter dalam Mengatasi Inflasi dengan Menaikkan Suku Bunga, Apakah Efektif?

Oleh: Abigail Pebrianti Silaen *)


SUKU bunga adalah salah satu alat yang paling efektif untuk mengurangi inflasi. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, suku bunga antar bank naik. Jadi apa hubungan antara inflasi dan suku bunga? Bunga diterapkan untuk pinjaman. Oleh karena itu, suku bunga memegang peranan penting dalam sektor perbankan.

Pada umumnya tingkat bunga pinjaman ditetapkan oleh bank sentral yang merupakan otoritas tertinggi di bidang perbankan. Namun, setiap bank komersial memiliki kekuatan eksplisit untuk menetapkan suku bunga pinjaman, yang tidak boleh lebih tinggi dari suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral.

Bank sentral memiliki sejumlah kebijakan yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi guna mengatur stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Ini tidak mengherankan, karena bank sentral adalah otoritas tertinggi dalam menetapkan kebijakan moneter. Dengan kekuatan tersebut, bank sentral juga dapat memanipulasi suku bunga jangka pendek untuk mempengaruhi tingkat inflasi dalam perekonomian.
Ketika suku bunga naik, permintaan kredit menurun karena orang lebih suka menabung karena imbal hasil tabungan lebih tinggi. Ini akan memiliki efek tambahan menghabiskan lebih sedikit uang, yang mengarah ke ekonomi yang lebih lambat dan inflasi yang lebih rendah.

Kenaikan suku bunga deposito menyerap lebih banyak uang yang beredar. Dalam teori ekonomi, jumlah uang beredar mempengaruhi inflasi. Semakin banyak uang beredar, semakin tinggi inflasi. Sebaliknya, ketika jumlah uang beredar menurun, inflasi juga menurun. Karena itu, suku bunga pinjaman yang lebih tinggi menyebabkan perluasan dunia usaha dan dengan demikian menurunkan tingkat konsumsi. Artinya, permintaan akan berkurang.

Jadi apa tujuan dari kenaikan suku bunga? Tujuannya adalah untuk menjaga rupiah stabil terhadap suku bunga AS yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang mencapai 14.000 pada tahun 2018, sehingga Bank Indonesia menaikkan suku bunga.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UPR Padamkan Kebakaran Lahan di Sei Pasah

Selain itu, faktor yang melatarbelakangi kenaikan suku bunga Bank Indonesia adalah tingkat inflasi diperkirakan akan mencapai 3,6% pada tahun 2018. Oleh karena itu, solusi untuk mengalahkan inflasi adalah bank sentral menerapkan kebijakan diskonto dengan menaikkan suku bunga. Tujuannya adalah untuk mendorong orang untuk menyimpan besar. Dan diharapkan jumlah uang beredar dapat dikurangi sehingga tingkat inflasi dapat ditekan.

Faktor lain yang membuat nilai tukar rupiah tidak stabil adalah pertumbuhan ekonomi tahun ini terhenti di angka 5,2% karena Indonesia lebih banyak mengimpor barang dari luar negeri. Hal ini mengharuskan BI menaikkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

Kebijakan diskonto adalah kebijakan bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga bank. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, itu berarti bertujuan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Harapannya, dengan menaikkan suku bunga, masyarakat akan menyimpan uangnya di bank. Karena itu, jumlah uang beredar akan berkurang.

Kebijakan menaikkan suku bunga berfungsi untuk melawan inflasi. Ketika bank sentral memangkas suku bunga, itu berarti bertujuan untuk menambah jumlah uang yang beredar. Mudah-mudahan dengan suku bunga bank yang rendah, masyarakat tidak akan senang menyimpan uangnya di bank. Hal ini akan meningkatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Bank sentral menurunkan suku bunga ketika ekonomi memasuki resesi atau deflasi.

Apa dampak kenaikan suku bunga terhadap masyarakat? Masyarakat Indonesia akan merasakan berbagai dampak dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), mulai dari kenaikan biaya pinjaman korporasi hingga berkurangnya penciptaan lapangan kerja.

Baca Juga :  Pemkab Seruyan Disarankan Beri Bimbingan kepada pembudidaya Ikan Keramba

1. Nilai Tukar Rupiah Menguat
Bhima Yudhistira, Ekonom Pusat Studi Ekonomi dan Hukum, mengatakan, kenaikan suku bunga acuan BI bisa memperkuat rupiah. Ini karena kenaikan suku bunga menarik modal asing ke Indonesia karena investor tertarik dengan imbal hasil utang Indonesia yang menarik. “Ini bisa mencegah capital outflow, sehingga rupiah bisa lebih stabil,” ujarnya saat ditanya Kompas.com, tulisnya, Senin (29/08/2022).

2. Pertumbuhan Ekonomi Bisa Melambat
Dengan dampak kenaikan suku bunga BI terhadap masyarakat dan pelaku usaha dapat menggerus daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan perusahaan domestik sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi menyusut. “Pertumbuhan ekonomi nanti akan menyusut. Sedikit melambat,” ujarnya.

3. Pasokan Kredit Telah Runtuh
Menurut data Faisal Juli lalu, tingkat pertumbuhan kredit perbankan masih relatif baik. Apalagi masih bisa mencapai 10%. “Dampak pengetatan moneter bisa terjadi setelah Juli. Kami belum melihat dampaknya terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Logikanya, hal itu akan menurunkan pertumbuhan dan penyaluran kredit. Saya kira sudah satu digit, di bawah 10 persen,” katanya.

4. Daya Beli Individu dan Bisnis Terkikis
Masyarakat akan terbebani dengan suku bunga pinjaman yang akan naik setelah BI menaikkan suku bunga kebijakan. Hal ini mempersulit masyarakat untuk membeli rumah dan kendaraan dengan sistem kredit. “Dari sisi konsumen ingin membeli sepeda motor, leasing, KPR dan suku bunga variabel akan lebih tinggi,” kata Bhima.

Sementara itu, kenaikan suku bunga kredit dibarengi dengan kenaikan biaya hidup sehari-hari akibat inflasi yang membuat daya beli masyarakat tergerus. “Akhirnya, kenaikan suku bunga ini akan memberi tekanan pada yang paling rentan. Jadi, dia makin tergantung utang, makin berat beban hidupnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Fraksi Pendukung DPRD Barut Diminta Siapkan Pemandangan Umum

Peningkatan bunga deposito tidak hanya dapat membebani masyarakat, tetapi juga membebani pemangku kepentingan perusahaan. Pasalnya, pelaku biasanya mendapatkan modal usaha untuk membeli barang dari pinjaman bank.

5. Biaya KPR Pinjaman Komersial Berlebihan
Pengetatan moneter ini juga akan menaikkan suku bunga acuan di perbankan dan lembaga keuangan konvensional lainnya. Hal ini meningkatkan biaya pinjaman dari bank, termasuk hipotek dan pinjaman mobil.

6. Tingkat Pinjaman Meningkat
Bhima mengatakan, kenaikan suku bunga deposito tampaknya telah merugikan bank karena harus membayar nasabah dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito yang tidak seimbang. Oleh karena itu, bank berusaha menaikkan suku bunga pinjaman agar tidak menanggung biaya pembiayaan kembali yang tinggi. “Bank juga mencari dana melalui deposito, sehingga suku bunga akan semakin mahal, sehingga biaya dana bank akan naik. Ini mendorong bank untuk menyesuaikan suku bunga lebih cepat,” ujarnya.

Jadi, apakah suku bunga efektif untuk menekan inflasi? Kenaikan suku bunga acuan BI dapat mengatur likuiditas dan peredaran uang di dalam dan luar negeri serta meredam inflasi. Dalam teori ekonomi, jumlah uang beredar akan mempengaruhi inflasi. Semakin banyak uang beredar, semakin tinggi inflasi. Menaikkan suku bunga acuan akan menaikkan suku bunga deposito dan imbal hasil obligasi. Harapannya, masyarakat akan memilih menyimpan uangnya di bank daripada membelanjakannya untuk konsumsi. Akibatnya, uang yang beredar berkurang dan permintaan barang berkurang. Ketika permintaan barang menurun, harga akan cenderung menurun. Pada akhirnya, tingkat inflasi dapat menurun. (**)

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA