oleh

Kalteng Kembangkan Kopi dan Coklat

PALANGKA RAYA – Komoditi sawit di Kalimantan Tengah (Kalteng) berada pada posisi ketiga nasional setelah Provinsi Riau dan Sumatera Utara. Di mana sekitar 25 persen CPO (Crude Palm Oil) nasional, berasal dari Kalteng. Sedangkan karet, harganya berfluktuatif. Namun sekarang, harganya sudah mulai naik.

Hal itu dipaparkan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng, Rawing Rambang, dalam pertemuan antara Ketua Komite 1 DPD RI Dr Agustin Teras Narang dengan petani pekebun di Palangka Raya, Jumat (20/12/2019).

“Produksi dua komoditi ini di Kalteng, menurun sejak tahun 2016 sampai 2019. Ini diketahui berdasarkan luas areal. Namun demikian, dari sisi produktivitas dan serapan tenaga kerja, meningkat,” kata Rawing.

Baca Juga :  Presiden Undang Dunia Berinvestasi di IKN Baru

Diungkapkan, Gubernur Kalteng Sugianto Sabran, menilai saat ini perkebunan sawit dan karet sudah cukup banyak. Sehingga dikembangkan kebun kopi dan coklat. Harapannya, agar ke depan komoditi di Kalteng ini tidak lagi tergantung kepada sawit dan karet.

Sebab, berdasarkan analisis Bank Indonesia, ternyata pertumbuhan ekonomi Kalteng selama ini sangat dipengaruhi oleh sawit dan karet. Artinya, kalau harga sawit dan karet menurun, maka pertumbuhan ekonomi Kalteng juga cenderung turun.

“Sehingga divariasikan dengan pengembangan kopi dan coklat. Mudahan-mudahan pada tiga tahun ke depan, Kalteng mampu berkontribusi kopi dan coklat,” harap mantan Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi Kalteng ini.

Baca Juga :  Kontingen Katingan Hilir Juara Umum Pesparawi

Terkait pengembangan plasma, menurut Rawing, di Kalteng sekarang ini luasnya mencapai sekitar 191 ribu hektar (ha). Kendala utama pengembangan plasma ini, adalah masalah lahan. Karena hampir semua lahan berada di areal Hutan Produksi (HP) dan Hutan Produksi Konversi (HPK). Hal inilah yang membuat pengusaha sawit sulit mengembangkan kebun untuk plasma. Karena memang regulasi masalah plasma ini berbeda-beda.

“Kami berharap, kebun-kebun rakyat tidak perlu lagi melewati proses yang panjang. Tetapi soal ini, sangat sulit mengusulkannya kepada Kementerian terkait,” jelasnya.

Baca Juga :  Dayaknese Woman Officially Graduated The Doctoral Degree, Gained Almost Perfect GPA

Ditambahkan Rawing, di Kalteng ini masih ada kecenderungan terjadinya konflik besar antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan. Ini yang jadi masalah untuk dicarikan solusinya.

Pertemuan ini selain dihadiri sejumlah petani pekebun, asosiasi petani, juga hadir tiga mantan Kepala Disbun Kalteng yakni Halind Ardi, Farintis Sulaiman, dan Erman P Ranan. Hadir pula mantan Kadis Kehutanan Kalteng Sipet Hermanto, unsur Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalteng, dan beberapa pejabat lingkup Pemprov Kalteng.(red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA