oleh

Indonesia di Ambang Resesi 2023?

Akhir-akhir ini beredar berita dari para pakar ekonomi bahwa Indonesia terancam resesi pada tahun 2023. Para pakar ekonomi itu menyebutkan bahwa resesi yang akan terjadi akan berdampak sangat besar pada sistem perekonomian yang ada di Indonesia. Para pakar ekonomi mengistilahkan bahwa tahun depan atau beberapa tahun ke depan akan menjadi tahun yang gelap.

Para pakar ekonomi juga menganggap bahwa perputaran ekonomi akan menjadi seperti lingkaran ekonomi yang di mana semisalkan 1 jatuh dan jika yang lain tidak mampu dipertahankan maka ekonomi akan runtuh. Namun masih banyak yang belum tahu mengapa resesi ini bisa terjadi. Ini semua disebabkan dan diawali oleh terjadinya pandemi Covid-19.

Mengapa pandemi menjadi tersangka pertama memburuknya ekonomi negara? Itu semua disebabkan karena perputaran uang yang Shutdown (mati). Mengapa perputaran uang yang jadi penyebabnya? Simplenya, perputaran uang sangat diperlukan. Contoh, sebuah perusahaan harus menjual barang untuk menggaji karyawannya dan karyawan harus mencukupi kebutuhannya, namun semua perputaran ini tiba-tiba distop gara-gara terjadi pandemi yang di mana orang-orang tidak diperbolehkan keluar dari rumah (pembatasan interaksi) sehingga bisnis-bisnis pun tidak memiliki customer dan terjadilah pengurangan tenaga kerja.

Lalu, sebab terbesar dengan tindakan yang dilakukan seluruh negara saat pandemi. Apa itu? Mencetak uang besar-besaran. Kita ambil contoh dari negara US. Kenapa negara US? Apa tujuannya? US menjadi sorotan setelah mencetak uang dengan skala besar yang jika dilihat dari puluhan tahun terakhir, tahun pandemi merupakan tahun paling banyak US mencetak uang dan semua itu bertujuan untuk memperbaiki perekonomiannya. Namun, bukan semakin membaik tapi perekonomian mereka tumbuh dengan cara negatif, yaitu bertambahnya pengangguran, naiknya harga kebutuhan, dan turunnya harga bursa saham.

Sebenarnya, Pemerintah US berniat memberi uang secara gratis kepada orang-orang yang terdampak pandemi ini agar mereka mampu bertahan hidup dan agar uang tersebut dapat digunakan untuk memutarkan ekonomi mereka yang sebelumnya mati. Alhasil muncullah persepsi yang tidak rasional di mana banyak dari orang yang terdampak pandemi dan mendapatkan uang secara gratis menggunakan uang tersebut untuk investasi properti.

Baca Juga :  Pembangunan UPR Harus Berkelanjutan

Perang Rusia dan Ukraina juga membawa dampak besar. Di balik peperangan tersebut Rusia terkena embargo yang mengakibatkan mata uangnya turun. Namun tak lama dari itu rusia mampu mengembalikan nilai mata uangnya Kembal. Tapi yang membuat Rusia menjadi negara yang sangat penting bagi ekonomi dunia ialah Minyak Gas Rusia. Terbukti bahwa Rusia menjadi ‘Pom Bensin’ dunia, karena hampir semua negara di dunia bergantung pada minyak dari Rusia. Juga kebanyakan negara di dunia menggunakan minyak untuk energi dan listrik.

Dari sinilah kita tahu bahwa jika sebuah negara bekerja sama dengan Rusia dan dari peperangan antara Rusia dan Ukraina terlihat banyak negara lebih memihak kepada Ukraina dibanding Rusia dengan alasan kemanusiaan. Maka dari itu Rusia mulai menghentikan kerja sama dengan beberapa negara dikarenakan tindakan yang saling tidak menguntungkan bagi Rusia.

Terdapat beberapa berita bahwa Rusia akan menjual minyaknya ke beberapa negara Asia secara diam-diam yang membuat beberapa pakar ekonomi dan politik mengira bahwa Rusia mulai menjauh dari lingkaran ekonomi Eropa dan membangun kerja sama dengan negara Asia agar mendapatkan dukungan yang lebih.

Ada juga krisis yang terjadi di beberapa negara di Eropa seperti di United Kingdom (UK) dan Jerman yang mengalami krisis energi dan pangan. Peperangan Rusia dan Ukraina berdampak sampai ke energi dan pangan di UK dan Jerman, karena sekali lagi kebanyakan negara Eropa sangat bergantung pada Rusia.

Jika disimpulkan lebih dalam lagi, dari berbagai berita di Eropa, krisis pangan ini menimbulkan banyak sekali perbincangan mulai dari naiknya harga pangan, orang-orang mulai kesulitan untuk dapat makan, dan paling buruknya lagi di mana orang-orang harus membayar tagihan listrik yang tinggi hingga tidak mampu membeli makanan. Selain itu, Eropa diambang musim dingin sehingga energi pemanas sangatlah dibutuhkan. Jika banyak orang harus membayar mesin pemanas, bagaimana mereka harus membayar untuk kebutuhan sehari-hari, jika kebanyakan dari orang Eropa merupakan orang-orang kaya berarti krisis ini tidaklah mustahil bagi kebanyakan orang. Tapi dilihat dari beberapa data penduduk di Eropa tidaklah jauh beda dengan negara-negara msikin di sekitarnya. Sehingga membuat persepsi orang-orang Eropa bahwa mereka tidak mampu bertahan lebih dari tiga bulan selama musim dingin, belum lagi pandemi Covid-19 yang tidak kunjung selesai.

Baca Juga :  Pendidikan Merdeka Belajar dalam Kesiapsiagaan Bela Negara Terhadap Era Revolusi Industri

Krisis energi di Eropa tidak hanya berdampak pada negara-negara Eropa sekitarnya saja, namun bisa berdampak ke negara lain salah satunya Indonesia walaupun secara tidak langsung. Tapi jika dilihat dari perekonomian Indonesia, banyak aspek ekonomi Indonesia yang mengikuti beberapa aspek ekonomi dari negara lain tak terkecuali Amerika.

Amerika sudah menjadi negara nomor 1 yang ekonominya paling kuat di dunia. Negara Indonesia merupakan negara yang ekonominya masih bisa dibilang stabil, naiknya harga BBM Pertalite, Solar hingga Pertamax menimbulkan beberapa penolakan di beberapa daerah di Indonesia. Namun Pertamina mengklaim harga Pertamax masih paling kompetitif atau bisa dibilang masih mampu dijangkau di beberapa kelas ekonomi mulai kelas atas, menengah, hingga bawah. Selain itu, Pertamina melakukan pengurangan subsidi BBM yang membengkak di pertengahan tahun untuk mencapai keseimbangan pasar. Itulah mengapa banyak pakar ekonomi Indonesia mengatakan bahwa Indonesia seharusnya sudah membayar BBM mahal mulai dari dulu, namun tertutupi dengan subsidi yang dilakukan pemerintah, sehingga bengkak dan baru sekarang mulai dikurangi.

Baca Juga :  Karyawan PT BMB Resah, Diteror Suara Tembakan

Dan yang menjadi akhir atau end game dari resesi ekonomi saat ini adalah Krisis Properti Rumah. Mengapa harus Krisis Properti? Kita bisa lihat dari masa lalu di mana Kasus Evergrande merupakan kasus utang developer properti terbanyak selama sejarah. Karena saat itu perusahaan Evergrande yang merupakan developer properti terbesar di China telah mengutang setidaknya sebanyak 300 Miliar Dolar Amerika. Menggunakan uang investor baru untuk menutupi utang investor lama dan terus seperti itu rotasinya yang membuat penurunan penjualan properti di China tajam ke bawah. Sehingga kebanyakan orang di China mulai tidak percaya dengan properti.

Jika dampak ini sampai ke Indonesia, bisa-bisa kebanyakan orang yang telah investasi dengan properti akan menumpuk utang yang banyak untuk membayar suku bunga yang naik akibat inflasi besar-besaran yang terjadi di berbagai belahan dunia. Namun jika dilihat sampai sekarang, mata uang dolar dengan rupiah (Rp) masih dibatas nilai normal yaitu masih Rp15 ribu per dolar dengan suku bunga yang naiknya tidak terlalu tinggi. Itulah yang menjadi alasan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang kuat. Namun tidak salah bagi kita untuk menyiapkan dana darurat guna mengantisipasi jika resesi 2023 akan benar terjadi di Indonesia.

Ada pepatah mengatakan “Lebih baik kalian mati-matian berlatih menjadi tentara di tengah-tengah kebun dibandingkan menjadi tukang kebun di tengah-tengah perang”. Kesimpulannya, lebih baik kita menyiapkan semuanya dengan kerja keras supaya kita tidak kaget jika tiba-tiba dihadapkan dengan situasi darurat suatu hari nanti. (**)

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya:

1. Abigail Pebrianti Silaen
2. Dina Setiana
3. Filipi Evan Fernando
4. Imanuel Moensaku
5. Marisa Elisabet
6. Maulidah
7. Muhammad Nuraldiansyah
8. Nadia Rasyidiyyah
9. Siti Rahmah
10. Sevina Azahra Ocha

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA