oleh

Banserudin Siapkan Tuntutan Adat dan Ajukan PK

MUARA TEWEH, inikalteng.com – Tidak terima dan merasa belum menjual lahannya ke PT Antang Ganda Utama (AGU), Banserudin, warga Desa Bukit Sawit, Kecamatan Teweh Selatan, Barito Utara (Barut), tengah menyiapkan tuntutan adat terhadap perusahaan dan akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Muara Teweh, yang mengakibatkan dirinya mendekam dalam jeruji besi selama enam bulan.

Kepada beberapa awak media, di kantor PWI Barut, Kamis (29/4/2021), Banserudin, menyampaikan, ada dua tuntutan yang akan dilakukan kepada PT AGU, yakni  perusahaan telah mengambil hak lahan milik nya seluas 9 ha dari 13 ha, dan dalam lahan 9 ha yang diklaim perusahaan sudah diperjualbelikan ada dua buah makam milik keluarganya.

Baca Juga :  Sambaran Petir di Malam Tahun Baru

Padahal menurutnya, dalam lahan seluas 9 ha tersebut ada tanam tumbuh atau kebun milik ayahnya. Hal itulah yang menguatkan dia, jika lahan tersebut adalah milik keluarga.

“Saya mengakui dalam gugatan terdahulu, memang masih banyak kekurangan sebagaimana hasil konsultasi kepada pihak Panitera Pengadilan Negeri Muara Teweh. Sebab itu saya akan memperbaiki berkas gugatan pada proses PK nantinya, karena kelemahan pada waktu itu ada dua gugatan yang digabungkan, yaitu gugatan wanprestasi (ingkar janji) dan Perbuatan Melawan Hukum (PMH),” ucap Banserudin.

Untuk diketahui, dalam gugatan yang telah diajukan Banserudin dan Bakran ke PN Muara Teweh pada 22 Januari 2015 lalu, yakni gugatan wanprestasi dan PMH. Atas gugatan tersebut, Majelis Hakim PN Muara Teweh dalam Putusan pada 30 April 2015, menyebutkan bahwa gugatan Banserudin dan Bakran tidak dapat diterima. Di mana dasar pertimbangan Majelis Hakim, yakni gugatan tersebut tidak sesuai dengan Hukum Acara Perdata karena menggabungkan antara wanprestasi dan PMH, sehingga dikatagorikan Obscuur Libel (surat gugatan tidak terang atau gelap isinya).

Baca Juga :  Perjuangkan Peningkatan Wisata Danau Mare

Kemudian dalam gugatan Perdata yang diajukan Banserudin sebagai Penggugat pada 2 Agustus 2018, di PN Muara Teweh dalam bentuk gugatan PMH, pada 23 Oktober 2018 Majelis Hakim memutuskan PN Muara Teweh tidak berwenang mengadili perkara tersebut. Adapun dasar pertimbangan putusan itu, yakni dalam proses gugatan menguraikan dan membuktikan proses HGU, yang merupakan administrasi bukan membuktikan PMH dalam gugatannya.

Baca Juga :  UPR Kini Sudah Jadi Kampus Nasional

Selanjutnya setelah melakukan dua gugatan Perdata, Banserudin tidak dapat membuktikan secara hukum yang menjadi klaimnya, dan secara sepihak telah melakukan pencurian tandan buah segar (TBS) di areal PT AGU. Di mana itu merupakan Tindak Pidana Pencurian, sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUHPidana.

Atas Tindak Pidana Pencurian tersebut, terhadap Banserudin telah dilakukan penahanan pada Agustus 2020 oleh Polres Barut, dan telah dilakukan Penuntutan oleh JPU Kejari Barut, serta Majelis Hakim PN Muara Teweh memutuskan Banserudin dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan sejak Agustus 2020 sampai dengan Februari 2021. (mhd/red2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA